RSS

Tugas 2 Kewirausahaan

Nama               : Chuwairul Muchazis Hakim

Kelas               : 4ID03

NPM               : 35409636

Keterangan      : Tugas 2

Mata Kuliah    : Kewirausahaan

 

 

Tugas 2 Kewirausahaan, 12 November 2012

Image

Platinoem band merupakan sebuah grup band yang berformasikan lima mahasiswa yang berprestasi dibidang akademisi yang mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu Universitas swasta terkemuka. Personil band Platinoem adalah Donny (Drums), Sam  (Lead & Layer Vocal), Candra (Bass & Backing Vocal), dan Angga (Acoustic & Electric Guitar, Backing Vocal). Merupakan suatu keberuntungan yang sangat luar biasa bagi para personil Platinoem, karena bukan hanya beasiswa yang diraih, tetapi juga mendapatkan dukungan penuh dari kampusnya dalam hal bermusik hingga mewujudkan mimpi para musisi untuk melahirkan sebuah karya album. Hal ini terlihat bahwa mereka telah membuat album dan masing-masing album mereka terlibat kerjasama dengan musisi ternama, seperti Yovie Widianto yang mempercayakan Platinoem band untuk membawakan dua karya ciptaannya yaitu bukan untukmu dan biarkanlah. Tidak hanya Yovie Widianto, Platinoem band juga mengajak beberapa musisi Aria Baron (founder/fit, Gigi, Baron’Soulmates), Ronald (ex Drummer Gigi, DR.PM), Dody is (Kahitna), dan Diat (Yovie & Nuno). Dari album yang diciptakan oleh musisi lain maupun yang diciptakan oleh personil Platinoem band itu sendiri sangatlah berbeda.

Dengan mereka melahirkan sebuah karya album, ternyata belum cukup untuk membuat band mereka sukses dan booming di pelantika musik. jika memang grup band mereka ingin lebih sukses di dunia industri permusikan Indonesia, mereka harus menciptakan karya lagu baru yang bagus dan enak untuk didengaroleh masyarakat Indonesia dan juga membuat suatu ciri khas dalam grup band agar mereka dapat mengangkat nama band mereka menjadi terkenal.

Untuk meraih kesuksesan dalam sebuah grup band diperlukan faktor-faktor yang dapat membuat sebuah grup band menjadi maju dan terkenal di dunia permusikan, antara lain:

 

1. Harus mempunyai tujuan

Memiliki tujuan yang jelas adalah hal yang paling utama dalam sebuah band yang ingin sukses. Dengan mempunyai tujuan yang jelas maka band tersebut dapat menentukan kearah mana band tersebut akan dibawa. Dalam industri musik persaingan sangatlah keras. Kebanyakan label rekaman, manager, produser musik enggan bekerja sama dengan band yang tidak jelas arah dan tujuannya. Mereka lebih memilih untuk bekerjasama dengan musisi yang memiliki tujuan yang jelas dan cekatan.

2. Mempunyai identitas dan ciri khas dalam Bemusik

Banyak sekali sekarang kita temukan band-band baru yang tidak mempunyai ciri khas tertentu yang menandakan identitas band mereka masing-masing atau dengan kata lain band-band tersebut hanya menjadi pengikut dari band terkenal sebelumnya. Kita memang boleh mengagumi suatu band dan ingin seperti band tersebut, namun tidak boleh sepenuhnya mengikuti band tersebut. Band kamu harus tetap memiliki ciri khas tersendiri, bahwa ketika khalayak mendengarkan musik kamu atau sedang melihat acara band, orang banyak tersebut mengetahui bahwa itu adalah band kamu. Orang akan menganggap musik kamu tidak bermutu apabila band kamu tidak memiliki ciri khas tertentu yang membedakan band kamu dari band-band lainnya. Jadi apabila kamu ingin menjadi musisi yang dapat diterima oleh khalayak banyak, kamu harus mempunyai identitas dan ciri khas yang menandakan band kamu, baik dalam warna musik anda maupun gaya berpenampilan dan aksi-aksi panggung band kamu.

 

3. Menjalani sebuah proses

“Proses” inilah yang paling penting dalam membuat suatu band menuju kesuksesan. Banyak band yang hanya memikirkan bagaimana bandnya bisa sukses saja, namun melupakan apa yang dinamakan dengan “proses ” Intinya adalah bagaimana kita fokus kepada proses, bukan kepada hasil semata-mata. Jika kita fokus kepada hasil saja, maka terkadang kita merasa cepat puas dengan hasil yang kita dapat. Padahal sebenarnya masih banyak potensi/bakat kita yang dapat digali lebih dalam. Proses merupakan sebuah jalan panjang yang harus dilalui, begitu banyak kendala ataupun rintangan ke depannya tetapi tentunya proses tersebut dengan sendirinya akan mematangkan kita dalam bermusik, baik itu kualitas musik yang dihasilkan ataupun membuat penggemar semakin mencintai musik kita. Banyak band yang kemudian menjadi patah semangat untuk mencoba kembali bersaing. Dalam dunia musik jika hanya menunggu untuk ditemukan. Kesuksesan tidak mungkin terjadi apabila kita hanya berdiam diri saja. Mereka berkata “saya sedang menunggu sukses!”. Kesuksesan dapat kita raih bukan ditunggu. Jadi tidak ada lagi kata-kata menunggu dalam dunia musik.

 

4.   Media

Pemanfaatan media sangat mendukung band dalam mendukung dalam kemajuan serta kesuksesan dalam sebuah band. Ini mencakup diantaranya industri musik yang mencakup majalah-majalah, surat kabar, radio, televisi. Sebuah band atau artis yang ingin sukses akan berkesinambungan melakukan promosi-promosi bagi karirnya, hal ini sangatlah berpengaruh besar bagi kemajuan band dan dapat menyebabkan “perhatian” bagi label rekaman untuk dapat dikontrak. Berusahalah untuk selalu “tampil” sebanyak mungkin di depan banyak orang. Manfaatkanlah peran media dengan maksimal agar band kamu dapat dikenal oleh banyak kalangan.

 

5. Harus memilih pemandu karier (manajer) yang professional

Manajer merupakan salah satu penunjang agar band dapat sukses,karena salah satu tanggungjawab dari manajer personal band adalah membantu band mengambil keputusan yang berhubungan dengan band tersebut. Hal ini tidak luput dari manajer-manajer band yang sudah profesional, terkadang mereka tidak ingin memanajeri band-band baru dengan berbagai alasan, seperti sudah banyaknya band yang sudah mereka manajeri. Hal tersebutlah yang membuat kemudian suatu band mengambil keputusan mengambil manajer bandnya secara asal-asalan, Salah satunya adalah dengan meminta kawannya untuk memanajeri bandnya tersebut. Yang kemudian terjadi justru sang teman tadi cenderung menjadi seorang booking agent dibandingkan manajer personal band, karena biasanya lebih gampang mencarikan panggung daripada memandu karir musik band tersebut. Jika kamu ingin mencari manajer carilah seorang manajer yang profesional. Apabila teman-teman kamu ingin membantu band kamu, mereka bisa menjual tiket atau belajar menjadi kru band kamu (membantu memasangi alat-alat band kamu). Jangan pertaruhkan karier band kamu di tangan seseorang yang sama sekali tidak memahami cara bekerja bisnis musik apalagi tidak berpengalaman sama sekali di dunia bisnis yang satu ini.

 

6. Kegigihan, Komitmen, dan Totalitas

Kegigihan, hal inilah yang sangat diperlukan dalam sebuah band. Banyak band yang telah manggung bareng selama lebih dari 10 tahun sebelum akhirnya mendapatkan kontrak rekaman! Inilah yang dinamakan dengan kegigihan. Keuletan seperti itulah yang dapat membawa artis/band ke puncak kesuksesan di bisnis musik. Band kamu bukannya harus menunggu 10 tahun atau lebih untuk menuju sukses, maksudnya disini bukanlah waktu namun apabila kamu mempunyai kegigihan dalam mengarungi suka maupun duka dalam merintis sebuah karir band, maka pintu kesuksesan dapat terbuka bagi band kamu..

Komitmen merupakan hal yang paling pokok dan penting dalam membangun sebuah band menuju kesuksesan. Berkomitmenlah dengan satu tujuan yaitu ingin berkarya dalam dunia musik secara profesional untuk mencapai tingkat kesuksesan bahkan kejayaan. Dengan berkomitmen seperti ini maka segala rintangan atau kesusahan yang melanda band akan diterima dengan ikhlas untuk dijadikan bahan pembelajaran bukan sebagai masalah yang kemudian membuat kamu menjadi menyerah. Dalam hal ini yang penting adalah masa depan bukan masa lalu. Jadi denganmempunyai komitmen yang jelas dan teguh maka sungguh pintu menuju kesuksesan dapat diraih dalam bisnis musik.

Totalitas adalah kunci dari kesuksesan sebuah band. Kalau kamu ingin menjadi band terkenal jangan pernah setengah-setengah dalam segala hal. Sebagai contoh apabila ingin manggung di acara musik, kamu harus memperhatikan kostum dan aksi panggung buat band kamu semenarik mungkin agar orang banyak dapat mengenal band kamu. Tentunya kualitas bermusik juga harus maksimal karena pada akhirnya kualitas musik jugalah yang menentukan band kamu nantinya. Kebanyakan band-band yang sudah terkenal bahkan yang sudah mencapai titik kejayaan berpendapat maksimal adalah kunci untuk mencapai semua itu.

 

Referensi:

  1. www.platinoem.com/
  2. http://kerockan.blogspot.com/2010/10/grup-band-baru-indonesia-cara-sukses.html

 

 

 
Leave a comment

Posted by on November 12, 2012 in Uncategorized

 

Tugas Kewirausahaan 1

Nama               : Chuwairul Muchazis Hakim

Kelas               : 4ID03

NPM               : 35409636

Keterangan      : Tugas 1

Mata Kuliah    : Kewirausahaan

 

 

Tugas 1 Kewirausahaan, 30 Oktober 2012

 

Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan,yang berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu yang menghasilkan penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.Kewirausahaan berasal dari Bahasa Perancis , Wira berarti pejuang, pahlawan,manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung,Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu

Wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumber daya yang diperlukan. Wirausahawan memiliki tiga jenis prilaku wirausahawan, yaitu :

  1. Tingkat tinggi energi, lebih energik daripada rata-rata orang.
  2. Keinginan untuk preferensi tanggung jawab atas risiko yang lebih besar, wirausahawan tidak mengambil risiko secara liar melainkan memperhitungkan terlebih dahulu risiko yang akan diambil.
  3. Orientasi terhadap masa depan. Berorientasi pada masa depan, wirausahawan kurang peduli dengan apa yang telah mereka lakukan kemarin dibandingkan dengan apa yang akan mereka lakukan besok.

Kunci penting sebagai seorang wirausahawan, yaitu :

  1. Berkarya, kreatif dan inovatif serta  memiliki ketrampilan.
  2. Berdaya tahan /ulet dan pencari peluang/tanggap terhadap peluang.
  3. Memiliki komitmen untuk menciptakan nilai tambah.
  4. Berani mengambil resiko.
  5. Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut.
  6. Percaya diri dan Mampu berkomunikasi secara efektif

Karakteristik seorang wirausahawan menurut Mc Clelland dan bertanggung jawab, yaitu:

  1. Keinginan untuk berprestasi dan bertanggung jawab
  2. Preferensi kepada resiko – resiko menengah.
  3. Persepsi pada kemungkinan berhasil.
  4. Rangsangan oleh umpan balik.
  5. Aktivitas energik.
  6. Orientasi ke masa depan.
  7. Keterampilan dalam pengorganisasian.
  8. Sikap terhadap uang.

Karakteristik seorang wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi, yaitu:

  1. Kemampuan inovatif
  2. Toleransi terhadapkemenduan(ambiguity)
  3. Keinginan untuk berprestasi
  4. Kemampuan perencanaan realitis
  5. Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
  6. Obyektivitas
  7. Tanggung jawab pribadi
  8. Kemampuan beradaptasi
  9. Kemampuan sebagai pengorganisasian dan administrator

Tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi menurut Mc Clelland, dan ontoh masing-masing.

  1. Kebutuhan untuk berprestasi (n Ach),

Contohnya: karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk pengakuan terhadap prestasinya tersebut.

  1. Kebutuhan berafiliasi (n Afill)

Contohnya : Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI) Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi.

  1. Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)

Contohnya : Karyawan memiliki motivasi untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status dan prestise pribadi.

sumber-sumber gagasan dalam identifikasi peluang usaha baru, yaitu Orientasi Eksternal dan Internal, Sumber Gagasan Bagi Produk dan Jasa Baru, Proses Perencanaan dan Pengembangan Produk, Produk – produk yang sesuai untuk perusahaan kecil, Arti Penting Orientasi Pemasaran, Matriks produk pasar, dan Kegagalan dalam memilih peluang usaha baru. Unsur-unsur analisa pulang yaitu, pokok, biaya tetap, biaya variabel, biaya total, pendapatan total, keuntungan, kerugian, dan titik pulang pokok.

Waralaba adalah Perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Jenis – jenis warlaba, yaitu:

  1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
  2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

Pemasaran langsung  adalah kegiatan yang total di mana penjualan mempengaruhi transfer barang dan jasa pada pembeli, mengarahkan usahanya pada pemerhati dengan menggunakan satu media atau lebih untuk tujuan mengumpulkan tanggapan melalui telepon,pos, atau kunjungan pribadi dari calon pelanggan. Teknik alternatif pemasaran langsung, yaitu:

  1. Periklanan terklasifikasi (classified advertising)
  2. Periklanan display (display ads)
  3. Kiriman pos langsung (direct mail)
  4. Katalog penjualan (catalog sales)
  5. Pemasaran tanggapan langsung media (media directy renponse
    marketing)

pembagian dalam bentuk-bentuk kepemilikan

  1. Pemilikan tunggal / perseorangan : (firma)
    1. Dimiliki dan dijalankan oleh 1 orang
    2. Pemilik tidak perlu membagi laba
    3. Kongsi
      1. Ada perjanjian tertulis
      2. Dimiliki 2 orang atau lebih
      3. Umur perusahaan terbatas
      4. Pemilikan bersama atas harta
      5. Ikut serta dalam manajemen dan pembagian laba
      6. Perusahaan Perseroaan
        1. Perusahaan dengan badan hukum
        2. Kewajiban pemilik saham terbatas pada jumlah saham yang dimiliki
        3. Pemilikan dapat berpindah tangan
        4. Eksitensi relatif lebih stabil/permanen

Tiga alternatif pada saat berakhirnya usaha, yaitu liquidasi, reorganisasi, dan rescheduling

 

 
Leave a comment

Posted by on November 12, 2012 in Uncategorized

 

Tugas ke 3 Etika Profesi

Tugas 3 etika profesi

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2012 in Uncategorized

 

Tugas 2 Etika Profesi

Nama               : Chuwairul Muchazis Hakim

Kelas               : 3ID03

NPM               : 35409636

Keterangan      : Tugas 2

Mata Kuliah    : Etika Profesi

Dosen              :  Sudaryanto, IR, MSc

Tugas 2 Etika Profesi, 22 Maret 2011

1. Jelaskan perbedaan pokok antara moral dengan etika, berikan contoh nyata dalam kehidupan sehari- hari!

Jawab.

Definisi etika adalah etika sebagai filsafat moral, etika sama dengan pemikiran kritis dan mendasar mengenai ajaran-ajaran moral, etika sebagai ilmu tentang moralitas. Definisi moral adalah sebagai ajaran tentangapa yang dilarang dan apa yang wajib dilakukan oleh manusia supaya bisa menjadi baik. Hubungan etika dengan moral yaitu, etika untuk yang umum atau konseptual atau prinsipal dan moral dipakai untuk yang lebih khusus atau spesifikasi atau paraktis. Perbedaan antara etika dan moral yaitu, etika bersifat kecakapan teoritis, contohnya seperti peta wilayah dan seperti buku ilmu pengetahuan. Sedangkan moral bersifat perintah langsung, contohnya seperti petunjuk perjalanan dan seperti buku manual.

(Sumber: kmku.files.wordpress.com/2008/02/1-etika-di-pt.ppt)

 

2. Jelaskan perbedaan pokok antara paham kantianisme dan utilitariansime! Berikan contoh masing-masing! Paham mana yang lebih banyak dianut oleh para profesional/Insinyur di bidang keteknikan? Mengapa? 

Jawab.

Paham  Kantianisme adalah paham dimana setiap kita mengambil keputusan, kita harus membayangkan bagaimana bila kita adalah pihak yang dirugikan. Paham ini menjelaskan bahwa bila memang harus dilakukan sebuah tindakan, maka tindakan itu dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Paham  Utilitarianisme ini mejelaskan bahwa setiap keputusan diambil untuk sebanyak-banyaknya kesenangan banyak orang.  Jelas sekali bahwa paham ini sangat baik utuk diambil oleh para professional karena paham ini memberikan manfaat yang lebih baik untuk pekerjaannya. Paham ini memberikan beberapa pertimbangan pada sebuah keputusan yang harus diambil. Paham utilitarianisme merupakan pemahaman yang lebih banyak dipilih oleh para profesional/insinyur dibandingkan pahama kantianisme, karana paham utilitarianisme lebih banyak manfaatnya bagi para profesional/insinyur dibandingkan paham kantianisme.

(Sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/tugas-etika-profesi-6/)

3. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari!.

Jawab.

Dilema moral adalah keadaan seseorang atau sekelompok masyarakat yang menghadapi suatu masalah dimana terdapat beberapa pilihan yang sulit dipecahkan dalam membuat sesuatu keputusan moral, dan diantara pilihan tersebut seseorang harus memilih salah satunya. Contoh dilema moral adalah antara berbuat jujur atau baik. Berbuat jujur itu sebuah keharusan. Tetapi bagaimana kalau kejujuran kita akan melukai orang lain atau orang yang kita cintai? Persoalan seperti ini sering sekali kita alami.  Baik, bersikap baik hati tentunya dianjurkan semua agama dan semua ajaran moral. Tapi bagaimana kalau kebaikan kita hanya akan bermanfaat untuk jangka pendek dan akan berdampak buruk pada jangka yang panjangnya? Bagaimana menghadapi dilema moral seperti ini? Ikutilah hati nurani.  Karena hati nurani pasti menuntun pada jalan yang benar. Jika nurani mengatakan kita harus jujur, maka bersikaplah jujur.  Apabila hati nurani mengatakan kita harus baik hati, maka berbaik hatilah.

(Sumber: http://elviraholics.blogspot.com/2012/04/softskill-etika-profesi-2.html)

4. Salah satu syarat untuk menjadi profesional adalah dimilikinya kompetensi dalam bidangnya. sehubungan dengan hal tersebut jelaskan kompetensi utama dan penunjang yang harus dimiliki Sarjana Teknik Industri Indonesia!

Jawab.

Kompetensi utama dan kompetensi penunjang yang harus dimiliki oleh Sarjana Teknik Industri Indonesia adalah mampu mengidentifikasikan, merencanakan, dan memecahkan masalah-masalah perancangan maupun perbaikan sistem yang terdiri dari manusia, material, informasi, peralatan dan sumber daya secara kreatif, mampu mengimplementasikan hasil-hasil pemecahan masalah dan mempunyai wawasan luas sehingga dapat memahami dampaknya terhadap konteks sosial, lingkungan dan konteks lokal maupun global, mampu beradaptasi terhadap teknik dan alat analisis baru yang diperlukan dalam menjalankan praktek profesi ke-teknik-industrian-nya, mampu berkomunikasi dan bekerja-sama secara efektif. memahami dan menyadari tanggung jawab profesi dan etika, mampu membawa atau mengimplementasikan konsep industri ke dalam dunia industri.

(Sumber: http://elviraholics.blogspot.com/2012/04/softskill-etika-profesi-2.html)

 

 
Leave a comment

Posted by on April 2, 2012 in Uncategorized

 
Aside

ABSTRAKSI

Carolus Spinola A. E. P.(32409884), Chuwairul Muchazis(35409636), Didi Priatna(35409740), Eflizarty Azahra R.(32409234), Iman Nurrohim(32409807).

PENGUKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA (ANTROPOMETRI).

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2011.

Kata Kunci : Pengukuran, Dimensi Tubuh, Lemari Belajar.

Dalam setiap pembuatan produk yang berhubungan dengan manusia harus mengutamakan faktor kenyamanan dalam penggunaan produk tersebut. Kenyamanan manusia dalam menggunakan produk yang akan digunakan ditentukan oleh ukuran-ukuran dimensi tubuh manusia yang menggunakan produk tersebut. Salah satu aplikasi dari pengukuran tubuh manusia terhadap perancangan sebuah produk adalah perancangan sebuah lemari belajar. Produk  ini harus diancang dengan baik agar dapat digunakan dengan nyaman. Data Antropometri yang digunakan adalah data Antropometri dari praktikan kelas 3ID03 sebanyak 22 orang. Data Antropometri untuk data statis sebanyak 44 dan data dinamis sebanyak 3.

Pembuatan lemari belajar memerlukan beberapa dimensi dalam antropometri. Dimensi yang dibutuhkan yaitu siku ke siku, tinggi badan tegak, tinggi pinggang berdiri, panjang lengan bawah, jangkauan tangan ke depan, lebar jari 2,3,4, dan 5, panjang kaki, dan sudut telapak kaki. Perancangan lemari belajar ini memakai nilai dengan data persentil 50%. Pemilihan nilai tersebut berdasarkan ukuran rata-rata mahasiswa kelas 3ID03 yang berjumlah 22 orang. Dimensi tinggi bahu berdiri untuk merancang tinggi dari lemari belajar yaitu 168. Dimensi tinggi pinggang berdiri digunakan untuk merancang ketinggian papan meja yang terdapat pada lemari belajar yaitu 98. Dimensi panjang lengan bawah dan jangkauan tangan ke depan digunakan untuk merancang lebar papan meja pada lemari belajar yaitu 16 cm. Dimensi lebar jari 2,3,4, dan 5 digunakan untuk merancang gagang pintu pada lemari belajar yaitu 8 cm . Dimensi panjang kaki dan sudut telapak kaki digunakan untuk merancang ukuran dari papan pijakan pada lemari belajar yaitu 25 cm dan 89 derajat.

Daftar Pustaka (1979 – 1996)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya zaman, manusia kini semakin kreatif dalam menciptakan sebuah produk yang mampu bersaing dipasaran. Produk yang mampu bersaing dipasaran tentunya tidak hanya dari segi penampilan yang menarik, tetapi sebuah produk haruslah memenuhi rasa nyaman saat digunakan. Rasa nyaman yang didapat dari sebuah produk terkadang hanya dapat dinilai oleh sebagian orang, sehingga dibutuhkan rancangan sebuah produk yang dapat disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia pada umumnya. Antropometri merupakan salah satu ilmu yang mempelajari mengenai karakteristik tubuh manusia. Untuk itulah, pada praktikum kali ini kita mengamati seluruh pengukuran dan posisi-posisi manusia secara jelas, dari mulai duduk hingga berdiri. Mempelajari ilmu antropometri sangatlah penting, karena kita bisa mengetahui posisi tubuh dengan posisi dari suatu produk secara ideal yang nyaman untuk digunakan.

Seorang perancang harus memiliki karakterisitik yang baik, karakteristik yang harus dimiliki perancang yaitu mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasi masalah, memiliki imajinasi untuk meramalkan masalah, berdaya cipta, dapat menyederhanakan persoalan, memiliki keahlian sesuai dengan rancangannya, dapat mengambil keputusan yang terbaik dan terbuka terhadap saran dan kritik. Kami mengajukan produk ’lemari belajar’ untuk mengamati dimensi-dimensi apa saja yang digunakan dalam merancang produk tersebut. Kami memilih lemari belajar untuk dirancang karena perancangannya menggunakan ukuran dimensi dari data pengukuran dan data dimensi tubuh yang digunakan sedikit.

1.2              Perumusan Masalah

Permasalahan pembuatan laporan akhir modul antropometri adalah dimensi apa saja yang digunakan untuk pembuatan lemari belajar.

1.3              Pembatasan Masalah

Laporan akhir modul antropometri memiliki beberapa pembatasan masalah. Pembatasan masalah tersebut hanya membahas tentang:

  1. Pengambilan data dengan mengukur beberapa dimensi tubuh manusia dilakukan di Laboratorium Teknik Industri pada hari senin tanggal 3 Oktober 2011 pukul 10.00 WIB.
  2. Proses pengukuran dimensi tubuh manusia pada setiap anggota kelompok di kelas 3ID03 sebanyak 22 orang.
  3. Proses pembuatan lemari belajar menggunakan dimensi-dimensi tubuh manusia.
  4. Data pengukuran 44 antropometri statis dan 3 antropometri dinamis.
  5. Perancang hanya menggunakan data mahasiswa kelas 3ID03.

1.4              Tujuan Penulisan

Penulisan laporan akhir modul antropometri didasarkan atas beberapa tujuan. Berikut ini adalah tujuan penulisan modul antropometri:

  1. Mengetahui dimensi apa saja yang digunakan dalam pembuatan lemari belajar.
  2. Mengetahui nilai mean, standar deviasi, persentil 5%, 50%, dan 95% untuk perancangan lemari belajar.
    1. Mengetahui ukuran-ukuran lemari belajar.
    2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan lemari belajar.
    3. Membandingkan antara lemari belajar yang ada dengan yang inovasi

1.5              Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan akhir modul antropometri terdiri dari lima bab. Berikut ini adalah sistematika penulisannya:

BAB I        PENDAHULUAN

Bab I menjelaskan tentang hal apa saja yang mendahului penulisan laporan akhir. Pendahuluan terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan dari laporan akhir modul antropometri

BAB II       LANDASAN TEORI

Bab landasan teori berisi mengenai tinjauan pustaka penulisan Laporan Akhir Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 tentang antropometri, penulisan dalam tinjauan pustaka yaitu sebagai informasi yang mempermudah pemahaman dan pengertian yang membahas antropometri (pengukuran dimensi tubuh manusia). Teori yang digunakan bersumber dari berbagai literatur yang dapat dipercaya kebenarannya berdasarkan penelitian para ahli.

BAB III    METODE PENGAMBILAN DATA

Metode pengambilan data yang menerangkan dalam menerapkan skema pengambilan data dan penjelasan dimensi apa saja yang dipakai. Metode pengambilan data ini juga menjelaskan tentang alat dan bahan yang digunakan.

BAB IV    PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Penjelasan tentang pengambilan data dalam cara perhitungan manual dengan menggambarkan produk yang dirancang setelah mengukur dimensi yang akan digunakan pada produk tersebut. Produk yang dirancang kemudian dideskripsikan dan di analisis dari hasil yang telah didapat dari perhitungan manual dan software.

BAB V       KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dan saran dari Laporan Akhir modul anthropometri dan data yang didapat dalam proses pengukuran dimensi tubuh manusia untuk perancangan pembuatan produk lemari belajar. Saran dan kritik yang membangun sebagai bahan evaluasi dari praktikum yang dilaksanakan supaya memperoleh hasil yang lebih baik lagi pada praktikum Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1       Filosofi Antropometri

Ada 3 filosofi dasar untuk suatu desain yang digunakan oleh ahli-ahli ergonomic sebagai data antropometri yang diaplikasikan (Sutalaksana, 1979 dan Sritomo, 1992), yaitu:

  1. Perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim. Contoh penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat.
  2. Perancangan produk yang bisa dioperasikan di antara rentang ukuran tertentu. Contoh: perancangan kursi mobil yang letaknya bisa digeser maju atau mundur, dan sudut sandaran yang bisa dirubah-rubah.
  3. Perancangan produk dengan ukuran rata-rata. Contoh: desain fasilitas umum seperti toilet umum, kursi tunggu, dan lain-lain.

2.2       Pengertian Antropometri

Menurut Nurmianto (1996) antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Antropometri secara lebih luas digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.

Menurut Sritomo (1992), salah satu bidang keilmuan ergonomis adalah istilah antropometri yang berasal dari “Anthro” yang berarti ukuran dan ”Metron” adalah dimensi. Secara definitif antropometri dinyatakan sebagai satu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dan sebagainya) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurut Sutalaksana, (1997) tempat kerja yang baik, sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, dapat diperoleh apabila ukuran-ukuran dari tempat kerja tersebut sesuai dengan tubuh manusia. Hal-hal yang bersangkutan dengan dimensi tubuh manusia ini dipelajari dalam antropometri.

Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia dan antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas, yaitu:

  1. Perancangan areal kerja.
  2. Perancangan peralatan seperti mesin, perkakas.
  3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi lemari komputer.
  4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

2.3       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tubuh Manusia

Data yang digunakan dalam melakukan perancangan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dipengaruhi:

  1. Umur

Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai kira-kira berumur 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Kemudian manusia akan berkurang ukuran tubuhnya saat manusia berumur 60 tahun.

  1. Jenis Kelamin

Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan pinggul.

  1. Suku Bangsa (Etnis)

Variasi dimensi akan terjadi, karena pengaruh etnis.

  1. Pekerjaan

Aktivitas kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan ukuran tubuh manusia. Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa kondisi tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi variabilitas ukuran dimensi tubuh manusia yang juga perlu mendapat perhatian, seperti:

  1. Cacat tubuh

Data antropometri akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat.

  1. Tebal atau tipisnya pakaian yang harus dikenakan

Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Artinya dimensi orang pun akan berbeda dalam satu tempat dengan tempat yang lain.

  1. Kehamilan (pregnancy)

Kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran dimensi tubuh (untuk perempuan) dan tentu saja memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti itu.

2.4       Karakteristik Seorang Perancang

Seseorang dikatakan perancang yang baik jika memiliki  karakteristik. Berikut ini merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh seseorang perancang agar menghasilkan produk yang baik:

  1. Mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah.
  2. Memiliki imajinasi untuk meramalkan masalah yang mungkin akan timbul.
  3. Berdaya cipta.
  4. Mempunyai keahlian dibidang matematika, fisika, kimia tergantung dari jenis rancangan yang dibuat.
  5. Dapat mengambil keputusan yang terbaik berdasarkan analisa dan prosedur yang benar.
  6. Terbuka terhadap kritik dan saran yang diberikan oleh orang lain.

2.5       Perancangan Produk atau Alat

            Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisa, menilai dan memperbaiki serta menyusun suatu sistem, baik untuk sistem fisik maupun nonfisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada (Nurmianto, 1996).

            Perancangan suatu alat termasuk dalam metode teknik, dengan demikian langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti metode yang menerangkan bahwa perancangan teknik adalah suatu aktifitas dengan maksud tertentu menuju kearah tujuan pemenuhan kebutuhan manusia. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam perancangan sebuah produk  antara lain:

  1. Aktifitas untuk maksud tertentu
  2. Sasaran pada pemenuhan kebutuhan manusia
  3. Berdasarkan pada pertimbangan teknologi

            Perencanaan rancangan produk perlu mengetahui karakteristik perancangan dan perancangnya. Beberapa karakteristik perancangan, yaitu:

  1. Berorientasi pada tujuan
  2. Variform yaitu suatu anggapan bahwa terdapat sekumpulan solusi yang mungkin tidak terbatas, tetapi harus dapat memilih salah satu ide yang akan diambil
  3. Pembatas yaitu membatasi solusi pemecahan antara lain:
    1. Hukum alam, seperti ilmu fisika, ilmu kimia, dan lain-lain.
    2. Ekonomis, pembiayaan atau ongkos dalam merealisir rancangan.
    3. Pertimbangan manusia, sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia dalam   merancang dan memakainya.
    4. Faktor-faktor legality, mulai dari model, bentuk sampai dengan hak cipta.
    5. Fasilitas produksi, sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menciptakan yang telah dibuat.
    6. Evolutif, berkembang terus mengikuti perkembangan zaman.

Prosedur perancangan yang merupakan tahapan umum teknik perancangan dikenal dengan sebutan NIDA, yang merupakan kepanjangan dari need, idea, decision and action. Artinya tahap pertama seorang perancang menetapkan dan mengidentifikasikan kebutuhan (need), sehubungan dengan alat atau produk yang harus dirancang. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan ide-ide (idea) yang melahirkan berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan tadi. Dilakukan suatu penilaian dan penganalisaan terhadap berbagai alternatif yang ada, sehingga perancang dapat memutuskan (decision) suatu alternatif terbaik dan pada akhirnya dilakukanlah suatu proses pembuatan (action) (Nurmianto, 1996).

            Hasil rancangan yang dibuat dituntut dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi si pemakai. Oleh karena itu,  rancangan yang akan dibuat harus memperhatikan faktor manusia sebagai pemakai. Faktor manusia ini diantaranya dipelajari dalam ergonomi (anthropometri).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat suatu rancangan selain faktor manusia antara lain (Nurmianto, 1996):

  1. Analisa teknik yaitu berhubungan ketahanan, kekerasan, dan sebagainya.
  2. Analisa ekonomi yaitu berhubungan dengan perbandingan biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat yang akan diperoleh.
  3. Analisa legalisasi yaitu berhubungan dengan segi hukum atau tatanan hukum yang berlaku dan dari hak cipta.
  4. Analisa pemasaran yaitu berhubungan dengan jalur distribusi produk/hasil rancangan sehingga dapat sampai kepada konsumen atau pemakai.
  5. Analisa nilai yaitu suatu prosedur yang mengidentifikasikan ongkos-ongkos yang tidak ada gunanya. Analisa nilai dibagi menjadi empat kategori antara lain:
    1. Uses value yaitu berhubungan dengan nilai kegunaan.
    2. Esteem value yaitu berhubungan dengan nilai estetika atau keindahan.
    3. Cost value yaitu berhubungan dengan pembiayaan.
    4. Exchange value yaitu berhubungan dengan kemampuan tukar.

Nurmianto menjelaskan bahwa didalam suatu perancangan terdapat tiga tipe perancangan antara lain (Nurmianto, 1996):

  1. Perancangan untuk pemakaian nilai ekstrim yaitu data dengan persentil ekstrim minimum 5% dan ekstrim maksimum 95%.
  2. Perancangan pemakaian nilai rata-rata yaitu data dengan persentil 50%.
  3. Perancangan untuk pemakaian yang dapat disesuaikan (adjustable).

2.6       Kelemahan dan Keunggulan Antrpometri

            Antropometri sangat diperlukan dalam dunia industri. Berikut ini adalah keunggulan dan kelemahan antropometri (Sritomo, 1992), yaitu:

  1. Kelemahan Antropometri
    1. Tidak sensitive.
    2. Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi).
    3. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempungaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.
  2. Keunggulan Antropometri
    1. Prosedur sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel cukup besar.
    2. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli.
    3. Alat murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat.
    4. Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan.
    5. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi dimasa lampau.
    6. Umumnya dapat mengidentifikasi status buruk, kurang dan baik, karena sudah ada ambang batas yang jelas.

Berdasarkan posisi tubuh antropometri dibagi menjadi dua bagian berikut ini adalah kedua bagian posisi tersebut:

  1. Antropometri Statis (Structural Body Dimension)

Pengukuran dilakukan pada saat tubuh dalam keadaan diam atau tidak bergerak. Dimensi yang diukur pada posisi ini antara lain meliputi berat badan, tinggi badan dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, dan lain-lain.

  1. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimension)

Pengukuran dimensi tubuh yang diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak. Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dinamis adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan.

2.7       Penggunaan Distribusi Normal

Penerapan data anthropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasinya dari suatu distribusi normal. Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean dan standar deviasi. Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Besarnya nilai persentil dapat ditentukan dari tabel probabilitas distribusi normal (Nurmianto. 1996).

Tabel 2.1 Distribusi Normal dan Perhitungan Persentil

Persentil

Perhitungan

1 – st

 – 2,325 x

2,5 – th

 – 1,96  x

5 – th

 – 1,645  x

10 – th

 – 1,28  x

50 – th

90 – th

 + 1,28  x

95 – th

 + 1,645  x

97,5 – th

 + 1,96  x

99 – th

 + 2,325  x

Dalam pokok bahasan anthropometri, 95 persentil menunjukkan tubuh berukuran besar, sedangakan 5 persentil menunjukkan tubuh berukuran kecil. Jika diinginkan dimensi untuk mengakomodasi 95% populasi maka 2,5 dan 97,5.

BAB III

PENGUMPULAN DATA

3.1       Flowchart  Pengumpulan Data

Setiap tahapan dalam flowchart merupakan prosedur yang dilakukan saat melakukan pengumpulan data. Berikut dapat dilihat pada Gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan flowchart pengumpulan data.

Gambar 3.1 Flowchart Pengumpulan Data

 

3.2       Penjelasan Flowchart Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data untuk modul antropometri, tahapannya dijelaskan dalam bentuk flowchat. Setiap tahapan dalam flowchart merupakan prosedur yang dilakukan saat melakukan pengumpulan data. Berikut dapat dilihat pada Gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan flowchart pengumpulan data.

Langkah pertama dalam tahapan pengumpulan data adalah menyiapkan alat diantaranya kursi antropometri, meteran jahit, meteran bangunan, dua buah batang kayu untuk membantu proses pengukuran, busur, dan lembar data antropometri. Setelah menyiapkan alat, kemudian tahapan berikutnya adalah melakukan pengukuran dimensi tubuh dengan menggunakan alat yang tersedia, untuk 44 data antropometri statis dan 3 data antropometri dinamis setelah semua data terpenuhi Kemudian keseluruhan data antropometri dicatat dalam lembar data antropometri.

Proses berikutnya untuk data antropometri yang diperoleh bila sudah sesuai, maka berlanjut ke proses berikutnya untuk menentukan produk yang akan dibuat. Namun jika data antropometri belum sesuai, maka harus melakukan pengukuran kembali. Selanjutnya bila data antropometri sudah mencukupi, maka dapat merapikan alat untuk diletakkan kembali pada tempatnya. Langkah berikutnya menentukan produk yang akan dirancang dari hasil pengukuran antropometri, dalam hal ini produk yang akan dirancang adalah lemari belajar.

3.3       Peralatan yang Digunakan

Peralatan yang digunakan beserta penjelasan fungsinya dalam proses pengumpulan data adalah sebagai berikut.

  1. Kursi , digunakan untuk mengukur seluruh bagian dimensi tubuh.
  2. Meteran, digunakan untuk mengukur dimensi tubuh secara manual.
  3. Busur, digunakan untuk mengukur ketepatan sudut putaran dimensi tubuh.
  4. Dua buah batang kayu, digunakan untuk membantu pengukuran dimensi tubuh yang sulit dijangkau.
  5. Lembar data antropometri, digunakan untuk mencatat keseluruhan hasil pengukuran.

3.4       Data Antropometri

Berikut ini adalah keseluruhan data antropometri dari seluruh kelompok, mulai dari data antropometri kelompok 1 sampai dengan kelompok 5.

Tabel 3.1 Lembar Data Pengamatan 1

  Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
KELOMPOK : 1 (Satu)

19 Tahun (Basit), 19 Tahun (Ferdy), 19 Tahun (Ifan), 20 Tahun (Panji)

Indonesia

UMUR :
SUKU BANGSA :

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Anthropometri Statis

No

Data Yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (cm)

Basit

Ferdy

Ifan

Panji

1

Berat badan

Bb

50

72

98

70

2

Tinggi duduk tegak

Tdt

136

136

140

135

3

Tinggi duduk normal

Tdn

128

133

137

133

4

Tinggi mata duduk

Tmd

115

120

130

126

5

Tinggi bahu duduk

Tbd

97

103

102

109

6

Lebar bahu

Lb

26

46

44

39

7

Siku ke bahu

Skb

32

35

35

40

8

Tinggi siku duduk

Tsd

29

33

30

32

9

Siku ke Siku

Sks

32

52

51

60

10

Tinggi sandaran punggung

Tsp

98

98

103

102

11

Lebar sandaran duduk

Lsd

45

66

50

40

12

Tinggi pinggang

Tpg

70

62

70

63

13

Lebar pinggang

Lpg

32

33

36

37

14

Lebar pinggul

Lp

29

38

43

40

15

Tebal perut duduk

Tpd

29

30

30

30

16

Tebal paha

Tp

16

19

22

21

17

Tinggi lutut duduk

Tld

50

46

52

52

18

Tinggi popliteal

Tpo

44

38

40

38

19

Pantat popliteal

Pp

34

48

50

50

20

Pantat ke lutut

Pkl

51

60

60

41

21

Tinggi badan tegak

Tbt

169

156

166

162

22

Tinggi mata berdiri

Tmb

160

154

155

153

23

Tinggi bahu berdiri

Tbb

140

135

139

137

24

Tinggi siku berdiri

Tsb

100

100

105

100

25

Tinggi pinggang berdiri

Tpgb

70

104

107

94

26

Tinggi pinggul berdiri

Tplb

56

92

90

86

27

Tinggi lutut berdiri

Tlb

50

55

48

47

28

Panjang lengan bawah

Plb

26

26

25

22

29

Tebal dada berdiri

Tdb

18

23

28

23

30

Tebal perut berdiri

Tpb

16

25

30

19

31

Jangkauan tangan ke atas

Jtkt

70

70

70

66

32

Jangkauan tangan ke depan

Jktd

76

83

86

66

33

Rentangan tangan

Rt

170

168

158

162

34

Pangkal ke tangan

Pkt

10

10

11

11

35

Lebar jari 2,3,4,5

Lj

8

7

8

8

36

Lebar tangan

Lt

11

10

10

10

37

Tebal tangan

Tt

5

5

6

3

38

Panjang jari 1

Pj 1

6

7

7

6

2

Pj 2

8

8

7

7

3

Pj 3

9

6

8

8

4

Pj 4

7

5

7

7

5

Pj 5

5

5

5

5

39

Panjang kaki

Pk

29

25

38

23

40

Lebar kaki

Lk

14

10

12

12

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Anthropometri Dinamis

No

Data Yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (derajat)

Basit

Ferdy

Ifan

Panji

1

Putaran lengan

Pl

130

120

110

100

2

Putaran telapak tangan

Ptt

140

135

110

130

3

Sudut telapak kaki

Stk

120

80

110

110

Tabel 3.2 Lembar Data Pengamatan 2

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis

Nama                                               : Kelompok 4

Umur                                               : Bervariasi

Jenis Kelamin                                 : Laki-Laki Dan Perempuan

Suku Bangsa                                   : Indinesia

No

Data yang diukur

Symbol

Hasil Pengukuran (cm)

Didi

Iman

Evly

Azis

Anto

1

Berat badan

Bb

55

71

45

115

65

2

Tinggi duduk tegak

Tdt

110

115

110

115

110

3

Tinggi duduk normal

Tdn

105

110

105

115

110

4

Tinggi mata duduk

Tmd

120

123

118

125

120

5

Tinggi bahu duduk

Tbd

60

67

60

65

63

6

Lebar bahu

Lb

43

45

35

50

44

7

Siku ke bahu

Skb

35

35

32

33

36

8

Tinggi siku duduk

Tsd

27

25

25

30

22

9

Siku ke siku

Sks

50

52

41

60

40

10

Tinggi sandaran punggung

Tsp

52

53

45

55

53

11

Lebar sandaran duduk

Lsd

20

24

20

30

22

12

Tinggi pinggang

Tpg

23

23

25

25

24

13

Lebar pinggang

Lpg

29

38

28

43

28

14

Lebar pinggul

Lp

33

36

31

42

30

15

Tebal perut duduk

Tpd

20

26

22

40

20

16

Tebal paha

Tp

14

21

16

27

16

17

Tinggi lutut duduk

Tld

50

52

44

53

58

18

Tinggi popliteal

Tpo

48

47

38

46

51

19

Pantat popliteal

Pp

47

45

40

47

51

20

Pantat ke lutut

Pkl

55

50

45

55

59

21

Tinggi badan tegak

Tbt

168

168

155

172

175

22

Tinggi mata berdiri

Plb

158

158

143

160

164

23

Tinggi bahu berdiri

Tbb

144

135

127

140

146

24

Tinggi siku berdiri

Tsb

115

102

100

108

110

25

Tinggi pinggang berdiri

Tpgb

100

95

92

98

108

26

Tinggi pinggul berdiri

Tplb

93

90

86

90

100

27

Tinggi lutut berdiri

Tlb

50

50

50

45

55

28

Panjang lengan bawah

Plb

25

26

26

26

31

29

Tebal dada berdiri

Tdb

20

26

22

29

23

30

Tebal perut berdiri

Tpb

21

24

25

36

27

31

Jangkauan tanggan ke atas

Jtkt

188

209

187

218

225

32

Jangkauan tanggan ke depan

Jktd

80

78

73

83

86

33

Rentangan tanggan

Rt

168

165

157

170

188

34

Pangkal ke tangan

Pkt

19

19

19

15

18

35

Lebar jari 2,3,4,5

Lj

9

9

8

6

9

36

Lebar tangan

Lt

10

10

10

7

9

37

Tebal tangan

Tt

2

3

4

2

2

38

Panjang jari 1

Pj 1

6

6

6

6

6

2

Pj 2

8

7

7

7

7

3

Pj 3

9

8

8

8

8

4

Pj 4

8

7

7

7

8

5

Pj 5

6

5

6

5

6

39

Panjang kaki

Pk

25

25

25

22

27

40

Lebar kaki

Lk

10

10

9

13

13

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis

No

Data yang diukur

Symbol

Hasil pengukuran

Didi

Iman

Evly

Azis

Anto

1

Putaran lengan

Pl

170

140

80

70

60

2

Putaran telapak tangan

Ptt

40

50

30

25

30

3

Sudut telapak kaki

Stk

80

70

80

80

90

 

 

Tabel 3.3 Lembar Data Pengamatan 3

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis

NAMA                    : DIPO, FINZA, BUDI

UMUR                    : 20, 20, 20 TAHUN

JENIS KELAMIN : L, L, L

SUKU BANGSA   : INDONESIA

No.

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (cm)

Dipo

Finza

Budi

1

Berat badan

Bb

48

82

98

2

Tinggi duduk tegak

Tdt

91

99

100

3

Tinggi duduk normal

Tdn

86

91

96

4

Tinggi mata duduk

Tmd

79

84

90

5

Tinggi bahu duduk

Tbd

61

65

66

6

Lebar bahu

Lb

42

42

50

7

Siku ke bahu

Skb

32

33

39

8

Tinggi siku duduk

Tsd

25

25

31

9

Siku ke siku

Sks

39

42

55

10

Tinggi sandaran punggung

Tsp

55

58

55

11

Lebar sandaran duduk

Lsd

32

25

24

12

Tinggi pinggang

Tpg

23

20

20

13

Lebar pinggang

Lpg

30

33

47

14

Lebar pinggul

Lp

29

35

42

15

Tebal perut duduk

Tpd

24

29

49

16

Tebal paha

Tp

17

19

20

17

Tinggi lutut duduk

Tld

50

55

52

18

Tinggi popliteal

Tpo

43

41

44

19

Pantat popliteal

Pp

41

42

43

20

Pantat ke lutut

Pkl

53

55

55

21

Tinggi badan tegak

Tbt

170

176

167

22

Tinggi mata berdiri

Tmb

158

163

154

23

Tinggi bahu berdiri

Tbb

142

144

135

24

Tinggi siku berdiri

Tsb

115

111

100

25

Tinggi pinggang berdiri

Tpgb

99

99

93

26

Tinggi pinggul berdiri

Tplb

91

89

83

27

Tinggi lutut berdiri

Tlb

49

52

48

28

Panjang lengan bawah

Plb

28

48

42

29

Tebal dada berdiri

Tdb

27

35

35

30

Tebal perut berdiri

Tpb

27

35

39

31

Jangkauan tangan ke atas

Jtkt

212

223

205

32

Jangkauan tangan ke depan

Jktd

75

78

77

33

Rentangan tangan

Rt

186

182

177

34

Pangkal ke tangan

Pkt

18

20

17

35

Lebar jari 2, 3, 4, 5

Lj

7

9

9

36

Lebar tangan

Lt

11

10

11

37

Tebal tangan

Tt

4

4

5

38

Panjang jari 1

Pj 1

6

7

6

2

Pj 2

8

9

8

3

Pj 3

9

10

9

4

Pj 4

8

9

8

5

Pj 5

7

6

7

39

Panjang kaki

Pk

14

27

25

40

Lebar kaki

Lk

10

12

12

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis

No

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (°)

Dipo

Finza

Budi

1

Putaran lengan

Pt

130

160

150

2

Putaran telapak tangan

Ptt

90

140

120

3

Sudut telapak kaki

Stk

160

160

130

 

 

 

Tabel 3.4 Lembar Data Pengamatan 4

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis

NAMA                    : JOE, NURHADI, RYAN, GADING, FRANS

UMUR                    : 19, 20, 22, 20, 20 TAHUN

JENIS KELAMIN : L, L, L, L, L

SUKU BANGSA   : INDONESIA

No.

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (cm)

Joe

Nurhadi

Ryan

Gading

Frans

1

Berat badan

Bb

54

107

63

79

63

2

Tinggi duduk tegak

Tdt

85

87

89

85

89

3

Tinggi duduk normal

Tdn

80.5

85

81

79

85.5

4

Tinggi mata duduk

Tmd

71

74

77

75

76.5

5

Tinggi bahu duduk

Tbd

57

60

65

59

61

6

Lebar bahu

Lb

42

46

43

45

39.5

7

Siku ke bahu

Skb

38.5

36

37

35

40

8

Tinggi siku duduk

Tsd

19

21

27

27

25

9

Siku ke siku

Sks

44.5

46.5

27.5

45.5

35

10

Tinggi sandaran punggung

Tsp

47

53

56

56

50

11

Lebar sandaran duduk

Lsd

27.5

37.5

29

33

31

12

Tinggi pinggang

Tpg

19

22

20

21

20

13

Lebar pinggang

Lpg

28

40

30

32

29

14

Lebar pinggul

Lp

31

36

34.5

35.5

35

15

Tebal perut duduk

Tpd

18.5

38

19

22.5

18

16

Tebal paha

Tp

10

16

13.5

13

14

17

Tinggi lutut duduk

Tld

53

56

54

54

52

18

Tinggi popliteal

Tpo

44

44

46

42

43

19

Pantat popliteal

Pp

42

45.5

49

45

50

20

Pantat ke lutut

Pkl

54

60.5

57

56

57

21

Tinggi badan tegak

Tbt

165

174

171

167.5

169

22

Tinggi mata berdiri

Tmb

154

162

163

156

156

23

Tinggi bahu berdiri

Tbb

138

146.5

150

142

143

24

Tinggi siku berdiri

Tsb

103

109

109

109

106

25

Tinggi pinggang berdiri

Tpgb

97

100

102

98

95.5

26

Tinggi pinggul berdiri

Tplb

91

96

94

89

90.5

27

Tinggi lutut berdiri

Tlb

47

49

52

47

49

28

Panjang lengan bawah

Plb

24

24

25

21

19

29

Tebal dada berdiri

Tdb

16

25

17

22

20

30

Tebal perut berdiri

Tpb

15

31

17

23

17.5

31

Jangkauan tangan ke atas

Jtkt

208

216

214.5

206

206

32

Jangkauan tangan ke depan

Jktd

82

85

88

81

73

33

Rentangan tangan

Rt

171

182

176

170

165

34

Pangkal ke tangan

Pkt

10

10

11

10

10.5

35

Lebar jari 2, 3, 4, 5

Lj

8

7

6.5

8

7

36

Lebar tangan

Lt

10

10

10.5

10.5

9.5

37

Tebal tangan

Tt

3

3.5

4

3

3

38

Panjang jari 1

Pj 1

6

7

7

6.5

6

2

Pj 2

7

7

7.5

7.5

7

3

Pj 3

8

8

8

8

8

4

Pj 4

7.5

7.5

7

7

7.5

5

Pj 5

5.5

6

5.5

5.5

6

39

Panjang kaki

Pk

24.5

26

26

25.5

24.5

40

Lebar kaki

Lk

9

10.5

10.5

11

11

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis

No

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (°)

Joe

Nurhadi

Ryan

Gading

Frans

1

Putaran lengan

Pt

80

120

80

115

70

2

Putaran telapak tangan

Ptt

75

130

135

130

90

3

Sudut telapak kaki

Stk

60

30

80

60

70

Tabel 3.5 Lembar Data Pengamatan 5

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis

NAMA                      : Kelompok V
UMUR                      : Bervariasi
JENIS KELAMIN   : laki-laki
SUKU BANGSA      : Indonesia

No

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (cm)

Salman

Akbar

Endri

Fajar

Nisha

1

Berat badan

Bb

70

62

73

58

57

2

Tinggi duduk tegak

Tdt

89.5

94

103

82

82

3

Tinggi duduk normal

Tdn

88

91

87

79

80

4

Tinggi mata duduk

Tmd

80

84

82

73

70

5

Tinggi bahu duduk

Tbd

60

64

67

60

60

6

Lebar bahu

Lb

43

43

46

41

39

7

Siku ke bahu

Skb

33

37

34

35

32

8

Tinggi siku duduk

Tsd

28

27

22

25

23

9

Siku ke siku

Sks

35

34

38

36

36

10

Tinggi sandaran punggung

Tsp

57

62

65

59

59

11

Lebar sandaran duduk

Lsd

32

31

31

30

27

12

Tinggi pinggang duduk

Tpg

17

22

19

23

20

13

Lebar pinggang

Lpg

32

26

31

29

28

14

Lebar pinggul

Lp

38

38

37

37

41

15

Tebal perut duduk

Tpd

24

21

24

21

21

16

Tebal paha

Tp

20

20

20

19

19

17

Tinggi lutut duduk

Tld

54

49

52

50

48

18

Tinggi popliteal

Tpo

45

39

43

41

37

19

Pantat popliteal

Pp

50

48

51

50

47

20

Pantat ke lutut

Pkl

57

60

60

60

53

21

Tinggi badan tegak

Tbt

169

171

176

166

154

22

Tinggi mata berdiri

Tmb

157

159

162

152

143

23

Tinggi bahu berdiri

Tbb

139

140

145

135

127

24

Tinggi siku berdiri

Tsb

110

107

110

105

97

25

Tinggi pinggang berdiri

Tpgb

95

100

99

95

87

26

Tinggi pinggul berdiri

Tplb

86

88

90

90

82

27

Tinggi lutut berdiri

Tlb

45

50

46

50

45

28

Panjang lengan bawah

Plb

26

25

26

25

22

29

Tebal dada berdiri

Tdb

21

19

21

20

23

30

Tebal perut berdiri

Tpb

27

24

23

24

22

31

Jangkauan tangan ke atas

Jtkt

210

213

214

207

190

32

Jangkauan tangan ke depan

Jktd

72

83

77

75

67

33

Rentangan tangan

Rt

173

173

177

170

150

34

Pangkal ke tangan

Pkt

10

11

11

11

10

35

Lebar jari 2,3,4,5

Lj

7

7

8

7

6

36

Lebar tangan

Lt

10

10

12

11

9

37

Tebal tangan

Tt

4

4

5

4.5

4

38

Panjang jari 1

Pj 1

6.5

7

8

6.5

5.5

2

Pj 2

7.5

7.5

8.5

7

6

3

Pj 3

8

8.5

9

8

7

4

Pj 4

7

7

8.5

7.5

6

5

Pj 5

6

6

6.5

6

5.5

39

Panjang kaki

Pk

26

26

27

25

21

40

Lebar kaki

Lk

11

10

12

10

9.5

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis

No

Data yang Diukur

Simbol

Hasil Pengukuran (°)

Salman

Akbar

Endri

Fajar

Nisha

1

Putaran lengan

Pl

140

120

110

115

110

2

Putaran telapak tangan

Ptt

130

130

150

120

170

3

Sudut telapak kaki

Stk

85

60

90

90

90

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

4.1.      Pembahasan

Setelah mempelajari landasan teori, untuk lebih memahami antropometri maka selanjutnya teori yang ada diterapkan untuk penanganan masalah desain. Masalah desain yang diselesaikan dalam kasus ini yaitu perancangan lemari belajar.

4.1.1    Deskripsi Produk

Lemari belajar yang kami rancang telah disesuaikan dengan dimensi tubuh, sehingga memberikan kenyamanan bagi pemakainya. Kelebihannya yakni pada bagian atas lemari cukup luas untuk dapat meletakkan berbagai dokumen dengan jumlah yang cukup banyak, kemudian pada bagian samping  lemari terdapat empat buah laci pada sisi kiri lemari belajar yang difungsikan untuk menyimpan berbagai dokumen atau perlengkapan belajar dalam jumlah yang cukup banyak dan pada bagian kanan lemari pun ditambahkan satu buah laci, yang difungsikan sebagai tempat meletakkan CPU, serta sebagai tempat menaruh tas pada  bagian atas. Selain itu pada bagian kaki lemari dipasang sandaran kaki, sehingga dapat berfungsi untuk pijakan kaki. Lemari belajar yang kami buat juga berdimensi agak lebih besar jadi dapat menampung banyak barang dan harganyapun terjangkau.

 

4.1.2    Dimensi Antropometri yang Digunakan

            Pembuatan lemari belajar memerlukan beberapa dimensi dalam antropometri. Dimensi yang dibutuhkan yaitu siku ke siku, tinggi badan tegak, tinggi pinggang berdiri, panjang lengan bawah, jangkauan tangan ke depan, lebar jari 2,3,4, dan 5, panjang kaki, dan sudut telapak kaki. Dimensi siku ke siku digunakan untuk merancang bagian panjang papan lemari pada lemari belajar. Dimensi tinggi badan tegak untuk merancang tinggi dari lemari belajar. Dimensi tinggi pinggang berdiri digunakan untuk merancang ketinggian papan lemari yang terdapat pada lemari belajar. Dimensi panjang lengan bawah dan jangkauan tangan ke depan digunakan untuk merancang lebar papan lemari pada lemari belajar. Dimensi lebar jari 2,3,4, dan 5 digunakan untuk merancang gagang pintu. Dimensi panjang kaki digunakan untuk merancang ukuran papan pijakan kaki lemari belajar.

4.1.3    Pengolahan Data Secara Manual

Setelah menentukan dimensi yang akan digunakan maka selanjutnya dilakukan perhitungan secara manual untuk mengetahui hasil ukuran rancangan yang akan dibuat. Berikut ini adalah rincian perhitungannya:

  1. Mean

Mean merupakan rata-rata dari seluruh data yang ada dalam setiap dimensi

  1. Standar Deviasi

= rata-rata dimensi tubuh manusia yang digunakan

= jumlah hasil pengukuran dimensi tubuh manusia untuk semua populasi

n        = banyaknya populasi

Tabel 4.1 Perhitungan

Dimensi

Total

Mean

Standar Deviasi

Persentil   5 %

Persentil 50 %

Persentil 95 %

siku ke siku

913

41,5

9,29614

28,4856

41,5

59,0699

tinggi bahu berdiri

3069,6

139,53

14,651

127

140

149,47

tinggi pinggang berdiri

2032

96,7619

7,82882

83,8835

92,7619

109,64

panjang lengan bawah

588

26,7273

6,46

16,1006

26,7273

37,354

Pangkal ke tangan

291,5

13,25

1,5633

10

11

19,850

lebar jari 2,3,4, dan 5

162

7,71429

0,95618

6,14136

7,71429

9,28721

panjang kaki

482

25,3684

4,39963

18,131

25,3684

32,6058

Jangkauan tanggan ke depan

1724

78,36

5,99

68,51

78,36

88,21

 

 

Tabel 4.2 Dimensi yang Dipergunakan

Dimensi dan Fungsi Dimensi

Dimensi

Fungsi Dimensi

2 kali lebar siku ke siku

Lebar  papan untuk tempat belajar

tinggi bahu berdiri

Tinggi lemari besar

tinggi pinggang berdiri

Tinggi papan tempat belajar

panjang lengan bawah

Tempat pegangan laci bawah

Pangkal ke tangan

Kedalaman laci

lebar jari 2,3,4, dan 5

Pegangan laci

panjang kaki

Papan pijakan bawah

Jangkauan tangan ke depan

Lebar meja belajar

 

Contoh Perhitungan Dimensi Siku ke Siku:

Persentil 5%    =  – 1,645  = 41,5 – (1,645 x 9,29614)

= 41,5 – 15,2922 = 28,4856

Persentil 50% =  = 41,5

Persentil 95%  =  + 1,645  = 41,5 + (1,645 x 9,29614)

= 41,5+ 15,2922 = 59,0699

4.1.4    Pengolahan Data dengan Software (SPSS)

Langkah-langkah pengolahan data dengan menggunakan SPSS. Masukkan variabel yang akan digunakan pada variable view, yaitu nama dan dimensi. Masukkan data-data berdasarkan variabel yang dipilih pada data view. Kemudian pilih analyze, descriptive statistic, lalu frequencies. Pengolahan data dengan software menggunakan semua ukuran dimensi tubuh yang telah diukur dari 5 populasi. Berikut ini adalah hasil perhitungan software yang mencari nilai mean, standar deviasi, persentil 5%, 50%, dan 95%.

Gambar 4.1 Output Statics

 

4.1.5    Perancangan Produk

Perancangan produk lemari belajar menggunakan ukuran dimensi dari pengukuran yang telah dilakukan seperti tinggi bahu berdiri (tbb), jangkauan tangan kedepan (jtkd), panjang lengan bawah (plb), panjang kaki (pk), siku ke siku (sks), tinggi pinggang berdiri (tpb), lebar jari 2,3,4,5 (lj). Ukuran yang digunakan menggunakan data persentil 50% atau mean agar dapat digunakan sebagian besar mahasiswa karena menyesuaikan ukuran tubuh rata-rata mahasiswa Teknik Industri.

Ukuran perancangan lemari belajar yang didapat dari data dimensi tubuh manusia diambil dari hasil perhitungan secara manual, sebab setiap nilai dihitung dengan teliti satu demi satu dengan menggunakan rumus yang ada, sehingga data yang dihasilkan lebih akurat untuk rancangan lemari belajar. Urutan perancangan produk lemari belajar diantaranya, Dimensi tinggi bahu berdiri untuk merancang tinggi dari lemari belajar yaitu 140 cm. Dimensi tinggi pinggang berdiri digunakan untuk merancang ketinggian papan lemari yang terdapat pada lemari belajar yaitu 98 cm. Dimensi lebar jari 2,3,4, dan 5 digunakan untuk merancang gagang pintu pada lemari belajar yaitu 8. Dimensi panjang kaki digunakan untuk merancang ukuran dari papan pijakan pada lemari belajar yaitu 25 cm.

4.2.      Analisis

            Analisis berisi tentang analisis dari produk yang telah dirancang berdasarkan tipe perancangannya, perbandingan produk asli dengan produk yang telah dirancang serta kelebihan dan kekurangan produk yang dirancang. Berikut ini adalah analisis dari produk lemari belajar.

4.2.1    Analisis Produk

Produk yang dirancang adalah lemari belajar yang multifungsi dengan menggunakan tipe perancangan sebesar persentil 50% sehingga lemari belajar yang dirancang dapat digunakan sebagian besar mahasiswa. Perancangan lemari belajar mempertimbangkan ukuran-ukuran dimensi yang digunakan agar lemari belajar yang dihasilkan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen yang menggunakan.

4.2.2    Analisis Perbandingan Produk

            Perbandingan lemari belajar yang telah dirancang dengan produk yang sudah ada, yaitu lemari belajar yang sudah dirancang memiliki laci lebih banyak dengan terdapatnya sekat d bawah meja sebagai tempat tambahan menyimpan buku, terdapat juga pijakan kaki dan tempat meletakkan CPU jika diperlukan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunanya karena berdasarkan ukuran-ukuran dimensi yang telah diukur. Produk asli yang sudah ada tidak terdapatnya pijakan kaki sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi penggunanya.

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  5.1     Kesimpulan

Kesimpulan diambil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dan menjawab dari tujuan. Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil:

  1. Dimensi yang digunakan untuk merancang lemari belajara dalah  tinggi bahu berdiri (tbb), panjang lengan bawah (tlb), rentangan tangan (rt), jangkauan tangan ke depan (jktd), lebar jari 2345 (lpg), siku ke siku (sks), panjang kaki (pk)  dan tinggi pinggang berdiri (plb).
  2. Nilai persentil yang digunakan adalah 50%. Karena persentil 50% merupakan nilai persentil yang umum dan semua mahasisiwa 3ID03 dapat memakainya.
  3. Dimensi tinggi bahu berdiri untuk merancang tinggi dari lemari belajar yaitu 140. Dimensi tinggi pinggang berdiri digunakan untuk merancang ketinggian papan lemari yang terdapat pada lemari belajar yaitu 98. Dimensi panjang lengan bawah dan jangkauan tangan ke depan digunakan untuk merancang lebar papan lemari pada lemari belajar yaitu 16. Dimensi lebar jari 2,3,4, dan 5 digunakan untuk merancang gagang pintu pada lemari belajar yaitu 8 . Dimensi panjang kaki dan sudut telapak kaki digunakan untuk merancang ukuran dari papan pijakan pada lemari belajar yaitu 25 cm.
  4. Kelebihannya lemari belajar yang dirancang adalah lemari belajar telah disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia, sehingga memberikan kenyamanan saat digunakan. Kekurangan dari lemari belajar yang dibuat yakni lemari belajar hanya sesuai untuk populasi mahasiswa kelas 3ID03.

5.2       Saran

Berikut beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar pada proses pengukuran selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Saran yang dapat diberikan adalah data dimensi tubuh untuk mata kaki ditambah, sehingga untuk membuat pijakkan kaki pada lemari dapat lebih mudah.

PUSTAKADAFTAR

Nurmianto, Eko. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. PT. Guna Widya: Surabaya. 1996

Sutalaksana, Anggawisastra. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Institut     Teknologi Bandung. 1979.

Wignjosoebroto, Sritomo. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. PT. Guna     Widya: Surabaya. 1992.

Laporan Akhir Antropometri

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Uncategorized

 

Laporan Akhir Display

ABSTRAKSI

 

 

Carolus Spinola A. E. P. (32409884), Chuwairul Muchazis (35409636), Didi Priatna (35409740), Eflizarty Azahra R. (32409234), Iman Nurrohim (32409807).

PENGINDRAAN DAN INFORMASI ( DISPLAY )

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2011.

Kata Kunci : Display, Video, Perancangan.                              

Manusia dalam melakukan aktifitas selalu membutuhkan informasi agar dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar. Aktifitas yang dilakukan manusia berhubungan dengan lingkungan sekitar karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan dimana aktifitas itu dilakukan. Interaksi antara manusia dengan lingkungan membutuhkan suatu alat peraga yang berguna untuk menyampaikan informasi kepada manusia agar terciptanya komunikasi secara tidak langsung antar keduanya. Hal ini disebabkan,  lingkungan tidak dapat menyampaikan informasinya langsung kepada manusia dalam melakukan aktifitasnya. Maka dari itu dibutuhkan suatu alat peraga, yaitu berupa display yang berguna untuk menyampaikan informasi dari lingkungan dengan manusia agar aktifitas yang dilakukan menjadi lancar. Suatu display yang baik mengandung informasi yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia dengan membaca atau mendengarnya.

Produk yang dirancang hanya berupa display video. Perancangan display membahas aturan keselamatan dan kenyamanan kerja mengenai aturan pemakaian sarung tangan dan helm dengan durasi dalam video minimal 3 menit. Pekerja teramati dalam video sebanyak 5 orang dan perancangan video dilakukan di proyek pembangunan. Berdasarkan display yang dirancang, telah diketahui tipe-tipe yang digunakan dalam pembuatan display, yaitu tipe Video yang pertama termasuk display khusus, display kualitatif Dan berdasarkan panca indera, video yang dirancang termasuk dalam visual display dan auditory display. Perinsip yang digunakan, yaitu Prinsip proximity, prinsip symmetry, prinsip continuity, dan prinsip similarity. Video yang dirancang ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari  video ini adalah dapat memberikan informasi bagi pekerja mengenai pesan ergonomi bagaimana pentingnya menggunakan perlengkapan keselamatan kerja di lingkungan kerja, contohnya perlengkapan pada video ini dengan menggunakan helm dan sarung tangan pada saat bekerja. Hal tersebut berguna untuk menjaga keselamatan pekerja dari resiko kecelakaan pada saat bekerja dan melindungi bagian kepala dan tangan.

Daftar Pustaka (1979-2011)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1              Latar Belakang

Manusia dalam melakukan aktifitas selalu membutuhkan informasi agar dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar. Aktifitas yang dilakukan manusia berhubungan dengan lingkungan sekitar karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan dimana aktifitas itu dilakukan. Interaksi antara manusia dengan lingkungan membutuhkan suatu alat peraga yang berguna untuk menyampaikan informasi kepada manusia agar terciptanya komunikasi secara tidak langsung antar keduanya. Hal ini disebabkan, lingkungan tidak dapat menyampaikan informasinya langsung kepada manusia dalam melakukan aktifitasnya, sehingga dibutuhkan suatu alat peraga, yaitu berupa display yang berguna untuk menyampaikan informasi dari lingkungan dengan manusia agar aktifitas yang dilakukan menjadi lancar. Suatu display yang baik mengandung informasi yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia dengan membaca atau mendengarnya.

Pembuatan display berupa video tentang pentingnya keselamatan dan kenyamanan kerja bagi pekerja. Video ini memberikan informasi tentang pentingnya pemakaian helm untuk melindungi kepala dan sarung tangan safety agar tangan pekerja tidak menjadi lecet akibat membawa beban. Lingkungan kerja tidak dapat memberikan informasi langsung kepada pekerja akan tetapi dengan melihat video pentingnya  menggunakan perlengkapan helm dan sarung tangan pada saat bekerja, pekerja dapat mengetahui akibat yang dapat dialami. Apabila tidak menggunakan perlengkapan helm dan sarung tangan, pekerja kemungkinan besar bisa terjadi kecelakaan pada saat bekerja. Informasi yang diberikan melalui video ini dapat memberikan keamanan saat bekerja.

1.2              Perumusan Masalah

Perumusan masalah pada laporan akhir modul display adalah bagaimana cara membuat video yang baik dan benar. Apakah video yang dibuat dapat menyampaikan informasinya dengan baik.

1.3              Pembatasan Masalah

            Pembatasan masalah diperlukan agar tidak menyimpang dalam pembahasan mengenai display. Berikut ini adalah pembatasan yang diperlukan untuk membatasi masalah-masalah dalam display tersebut:

  1. Produk yang dirancang hanya berupa display video.
  2. Perancangan display membahas pentingnya keselamatan dan kenyamanan kerja dengan menggunakan helm dan sarung tangan.
  3. Durasi video minimal 3 menit.
  4. Pekerja teramati dalam video sebanyak 5 orang.
  5. Perancangan video dilakukan di proyek pembangunan.

1.4              Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan sesuai dengan yang diharapkan pada modul display. Berikut ini adalah tujuan selengkapnya:

  1. Mengetahui tipe-tipe dari display video yang dibuat.
  2. Mengetahui prinsip-prinsip yang digunakan dalam pembuatan display video.
  3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari video yang dibuat.
  4. Mengetahui ukuran-ukuran tulisan pada display.

1.5        Sistematika Penulisan

            Sistematika penulisan berguna untuk mempermudah pembaca memahami pembahasan. Laporan akhir analisis perancangan kerja dan ergonomi 2 ini dilakukan pengelompokan penulisan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I      PENDAHULUAN

Berisi mengenai latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan praktikum, dan sistematika penulisan. Penulisan pada pendahuluan untuk mengetahui apa saja yang ingin dibahas mengenai modul display.

BAB II    LANDASAN TEORI

Menerangkan mengenai tujuan pustaka bahwa penulisan Laporan Akhir Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 tentang display. Penulisan dalam landasan teori yaitu sebagai informasi yang mempermudah pemahaman dan pengertian yang membahas display.

BAB III   METODE PENGAMBILAN DATA

Metode pengambilan data yang menerangkan dalam menerapkan skema pengambilan data pada modul display. Metode pengambilan data ini menjelaskan juga mengenai alat yang digunakan pada modul display.

BAB IV   PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Berisi mengenai pembahasan yang terdiri dari deskripsi display yang dibuat, yaitu video. Analisis dari tipe display serta prinsip-prinsip display.

BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN

                 Bab V berisi kesimpulan dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Bab ini juga berisi saran yang ditunjukan bagi laporan akhir serta pelaksanaan Praktikum Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya agar dapat berjalan lebih baik lagi.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

2.1       Pengertian Display

Display merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar (Sutalaksana,1979). Arti informasi disini cukup luas, menyangkut semua rangsangan yang diterima oleh indera manusia baik langsung maupun tidak langsung. Informasi-informasi yang dibutuhkan sebelum membuat display, diantaranya:

1. Tipe teknologi yang digunakan untuk menampilkan informasi.

2. Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan.

3. Ketepatan dan sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.

4. Kecepatan total dari variabel yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.

5. Minimasi kesalahan dalam pembacaan display.

6. Jarak normal dan maksimal antara display dan pengguna display.

7. Lingkungan dimana display tersebut digunakan.

Pembuatan Display terdapat kriteria-kriteria tertentu. Berikut ini 3 kriteria dasar dalam pembuatan display yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Pendeteksian

Kemampuan dasar dari display untuk dapat diketahui keberadaannya atau fungsinya. Untuk visual display harus dapat dibaca, contohnya: petunjuk umum penggunaan roda setir pada mobil dan untuk auditory display harus bias didengar, contohnya: bel rumah.

2. Pengenalan

Setelah display di deteksi, pesan dari display tersebut harus bisa dibaca atau didengar.

3. Pemahaman

Dalam pembuatan display tidaklah cukup apabila hanya memenuhi 2 kriteria diatas, display harus dapat dipahami sebaik mungkin sesuai dengan pesan yang disampaikan.

            Display merupakan alat peraga yang menyampaikan informasi kepada organ tubuh manusia dengan berbagai macam cara. Penyampaian informasi tersebut di dalam sistem “manusia-mesin” merupakan suatu proses yang dinamis dari persentasi visual indra penglihatan.  (Nurmianto,1991)

Display juga berfungsi sebagai “Sistem Komunikasi” yang menghubungkan fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia, contoh dari display diantaranya adalah jarum speedometer, keadaan jalan raya memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum penunjuk speedometer merupakan contoh display tak langsung karena kecepatan kendaraan diketahui secara tak langsung melalui jarum speedometer sebagai pemberi informasi. (Sutalaksana, 1979).

Display dapat menyajikan informasi-informasi yang diperlukan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya, maka display harus dirancang dengan baik. Perancangan display yang baik adalah bila dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya. menurut Sutalaksana (1996), display yang baik harus dapat menyampaikan pesan tertentu sesuai dengan tulisan atau gambar yang dimaksud. Berikut ini adalah ciri–ciri dalam pembuatan display dan poster yang baik dan benar adalah:

1. Dapat menyampaikan pesan.

2. Bentuk/gambar menarik dan menggambarkan kejadian.

3. Menggunakan warna-warna mencolok dan menarik perhatian.

4. Proporsi gambar dan huruf memungkinkan untuk dapat dilihat/dibaca.

5. Menggunakan kalimat-kalimat pendek.

6. Menggunakan huruf yang baik sehingga mudah dibaca.

7. Realistis sesuai dengan permasalahan.

8. Tidak membosankan Ukuran

Poster bervariasi mulai dari sticker yang beukuran kecil sampai yang berukuran besar. Tetapi umumnya berukuran sebesar kalender. Poster berukuran kecil biasanya dalam bentuk stiker yang mudah ditempel dimana-mana, misalnya “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan” dapat ditempel di tempat umum seperti halte bus. Display yang berbentuk rambu-rambu berbahaya, biasanya dipasang pada dinding, pintu masuk atau pada tiang-tiang. Display ini berbentuk seperti rambu-rambu lalu lintas (berbentuk bulat, segitiga, segiempat atau belah ketupat).

Peran ergonomi sangat penting dalam membuat rancangan display dan poster yang memiliki daya sambung yang tinggi dengan pembaca. Display dan poster harus mampu memberikan informasi yang jelas. Konsep “Human Centered Design” sangat kuat dalam pembuatan display dan poster karena terkait dengan sifat-sifat manusia sebagai “penglihat dan pemaham isyarat”.

 

2.2       Tipe – tipe Display Berdasarkan Tujuan

Berdasarkan tujuannya display terdiri atas dua bagian. Berikut adalah tipe-tipe

display berdasarkan tujuan yaitu:

1. Display Umum

Diantaranya mengenai aturan kepentingan umum, contohnya display tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, “Jagalah Kebersihan”.

2. Display Khusus

Diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja khusus (misalnya dalam industri dan pekerjaan konstruksi), contohnya : “Awas Tegangan Tinggi”.

2.3       Tipe-tipe Display Berdasarkan Lingkungannya

Berdasarkan lingkungannya display terbagi dalam 2 macam. Berikut adalah tipe-tipe display berdasarkan lingkungannya yaitu:

1. Display Statis

Display yang memberikan informasi sesuatu yang tidak tergantung terhadap waktu, contohnya: peta (informasi yang menggambarkan suatu kota).

2. Display Dinamis

Display yang menggambarkan perubahan menurut waktu dengan variabel, contohnya: jarum speedometer dan mikroskop.

2.4       Tipe-tipe Display Berdasarkan Informasi

Berdasarkan informasi, display terbagi atas 3 macam. Berikut adalah tipe-tipe display berdasarkan informasinya yaitu:

1. Display Kualitatif

Display yang merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik, dan untuk menunjukkan informasi dari kondisi yang berbeda pada suatu sistem, contohnya: informasi atau tanda On Off pada generator, dingin, normal dan panas pada pembacaan temperatur.

2. Display Kuantitatif

Display yang memperlihatkan informasi numerik, (berupa angka, nilai dari suatu variabel) dan biasanya disajikan dalam bentuk digital ataupun analog untuk suatu visual display. Analog Indikator: Posisi jarum penunjuknya searah dengan besarnya nilai atau sistem yang diwakilinya, analog indikator dapat ditambahkan dengan menggunakan informasi kualitatif (misal merah berarti berbahaya). Digital Indikator: Cocok untuk keperluan pencatatan dan dapat menggunakan Electromecemichal Courtious.

3. Display Representatif

Display Representatif biasanya berupa sebuah “Working model” atau “mimic diagram” dari suatu mesin, salah satu contohnya adalah diagram sinyal lintasan kereta api.

 

 

2.5       Penggunaan Warna pada Visual Display

Informasi dapat juga diberikan dalam bentuk kode warna. Indera mata sangat sensitif terhadap warna BIRU-HIJAU-KUNING, tetapi sangat tergantung juga pada kondisi terang dan gelap. Dalam visual display sebaiknya tidak menggunakan lebih dari 5 warna. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa kelompok orang yang memiliki gangguan penglihatan atau mengalami kekurangan dan keterbatasan penglihatan pada matanya. Warna merah dan hijau sebaiknya tidak digunakan bersamaan begitu pula warna kuning dan biru. Pada penggunaan warna menurut Bridger, R.S (1995) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan warna pada pembuatan display, diantaranya:

Tabel 2.1    Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Warna pada Pembuatan Display

Kelebihan

Kekurangan

Tanda untuk data spesifik

Tidak bermanfaat bagi buta warna

Informasi lebih mudah diterima

Menyebabkan fatigue

Mengurangi tingkat kesalahan

Membingungkan

Lebih natural

Menimbulkan reaksi yang salah

Memberi dimensi lain

Informal

Penggunaan warna pada pembuatan display yang harus di perhatikan adalah arti penggunaan warna adalah sebagai berikut:

  1. Merah menunjukkan Larangan.
  2. Biru menunjukkan Petunjuk.
  3. Kuning menunjukkan Perhatian.

2.6       Prinsip – Prinsip Mendesain Visual display

Prinsip dalam mendesain suatu visual display. Berikut adalah prinsip-prinsip dalam mendesain visual display yaitu:

1. Proximity

Jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersama-sama dan saling memiliki dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan.

2. Similarity

Item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (dalam konsep warna, bentuk dan ukuran) bahwa pada sebuah display tidak boleh menggunakan lebih dari 3 warna.

3. Symetry

Menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display artinya elemen-elemen dalam perancangan display akan lebih baik dalam bentuk simetrikal.

Antara tulisan dan gambar harus seimbang.

4. Continuity

Menjelaskan sistem perseptual mengekstrakan informasi kualitatif menjadi satu kesatuan yang utuh.

 

BAB III

METODE PENGAMBILAN DATA

 

 

3.1       Flowchart Pengambilan Data

            Metode pengambilan data digambarkan dengan menggunakan flowchart. Berikut ini adalah urutan kegiatan yang dilakukan dalam pengambilan data pembuatan video dengan flowchart:

 

 

Gambar 3.1 Flowchart Pengambilan Data

 

 

3.2       Penjelasan Flowchart Pengambilan Data

Display yang akan dibuat berupa video dan bertemakan tentang ergonomi. Langkah menentukan produk yang akan dibuat terdiri dari menentukan jenis display akan dibuat dan judul dari display yang akan dibuat. Setelah menentukan produk yang dibuat maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan video yang terdiri dari alat tulis yang akan digunakan untuk membuat skema dari video yang akan dibuat dan kamera untuk merekam video yang akan dibuat.

 Langkah berikutnya yaitu membuat skema dari video yang akan dibuat. Melalui skema ini berisi tentang gambaran yang terdapat dalam video yang akan dibuat. Melalui skema video ini dapat terlihat jelas alur cerita dan inti pesan yang akan disampaikan melalui video ini.

Langkah berikutnya yaitu pembuatan video, pembuatan video menggunakan alat berupa kamera. Video ini dibuat berdasarkan skema yang telah dibuat. Jika video selesai dibuat maka langkah selanjutnya merapikan alat. Jika pembuatan video belum selesai maka langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu kembali ke langkah pembuatan video sampai pembuatan video selesai dilakukan. Merapikan alat berarti merapikan seluruh alat dan bahan yang digunakan berupa alat tulis dan kamera.

           

3.3       Peralatan yang Digunakan

            Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan beberapa peralatan. Berikut ini adalah peralatan yang digunakan dan disertai dengan fungsinya.

  1. Alat tulis, untuk membuat skema dari video yang akan dibuat.
  2. Kamera, untuk merekam video yang dibuat.                     
  3. Helm, property yang digunakan pada saat pembuatan video.
  4. Sarung tangan, property yang digunakan pada saat pembuatan video.     

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

 

 

4.1.      Pembahasan

Video adalah suatu display berisikan gambar-gambar atau rekaman kejadian yang  disesuaikan untuk memberikan informasi dan himbauan kepada pekerja. Perancangan video  ini memiliki tema yang berhubungan dengan ergonomi dan tema sosial. Video ini dirancang untuk menginformasikan kepada pekerja tentang manfaat ilmu ergonomi. Berikut ini pembahasan selanjutnya mengenai video yang dirancang.

4.1.1    Deskripsi  Skema Video

            Video yang bertemakan tentang ergonomi dan sosial bertujuan untuk memberikan himbauan kepada para pekerja bangunan yang tidak menggunakan perlengkapan keselamatan dalam bekerja dengan lengkap. Video ini menceritakan tentang suatu hari disebuah proyek pembangunan terdapat suatu aktivitas pada beberapa pekerja. Pekerja-pekerja tersebut tidak mementingkan keselamatannya dalam bekerja, khususnya pekerja dibagian  lapangan. Kasus kali ini membahas tentang kecelakaan kerja yang ditimbulkan akibat tidak menggunakan sarung tangan pada saat bekerja (mengangkat bahan bangunan), sehingga pekerja tersebut mengalami cedera pada bagian tangannya yang diakibatkan banyaknya jumlah bahan yang di angkut. Kasus selanjutnya sama hanya pada pekerja kedua tidak menggunakan helm saat bekerja, sehingga cedera atau luka memar yang dialami pekerja tersebut saat tertimpa peralatan bangunan cukup parah  dibandingkan apabila pekerja tersebut menggunakan helm atau perlengkapan lainnya dengan safety. Pimpinan proyek memberikan peringatan agar para pekerjanya  tetap menggunakan perlengkapan secara lengkap saat bekerja sehingga keselamatannya tetap terjamin.

            Keesokan harinya pekerja memakai perlengkapan keselamatan kerja dengan lengkap. Ketika peristiwa yang mirip terjadi lagi pada dirinya, maka bagian kepala dan tangan pekerja tetap aman dari benturan peralatan maupun mengangkut bahan-bahan lainnya.  

4.1.2    Proses Pembuatan Display

             Proses pengerjaan video ini dikerjakan di proyek bagunan dengan menggunakan alat bantu kamera dan perlengkapan yang digunakan pada saat bekerja. Proses kerja tersebut melibatkan 5 anggota pada kelompok 4 yang terdiri dari Carolus spinola sebagai operator 1 , Didi priatna sebagai operator 2, Eflizarty azzahra  R sebagai operator 3 , Iman nurrohim sebagai operator 4 dan Chuwairul M.H sebagai operator 5. Pembuatan video dilakukan pada siang hari menjelang sore pada pembuatan video ini dimasukan juga tulisan yang menjadi tema dari video ini yaitu “HINDARI DIRI DARI BAHAYA DENGAN MENGGUNAKAN PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA”. Ukuran tulisan ini berdasarkan jarak pandang sejauh 3 meter. Penggunaan jarak pandang 8 meter adalah asumsi kelompok 4 karena jarak ideal menonton televisi dengan jelas adalah 8 meter jika terlalu jauh maka penonton kurang terlalu jelas akan apa yang penonton lihat. Berikut ini adalah perhitungan antara tulisan tema dari video ini :

a. Tinggi huruf / angka dalam mm (H) =

                                                            = 

                                                            =  40 mm

b. Lebar huruf besar                = 2/3 . H 

= 2/3 x 40 = 26,67 mm

c. Lebar huruf kecil                 = 2/3 . h   

= 2/3 x 26,67 = 17,78 mm

d. Tebal huruf besar                = 1/6 . H  

= 1/6 x 40  = 6,67 mm

e. Tebal huruf kecil                 = 1/6 . h   

= 1/6 x 17,78 = 2,96 mm

f. Tinggi huruf kecil (h)           = 2/3 . h

= 2/3 x 40  = 26,67 mm

g. Jarak antar huruf & angka  = 1/5 . H

= 1/5 x 40  = 8 mm

h. Jarak antara 2 huruf            = 1/4 . H

= 1/4 x 40  = 10 mm

  1. Jarak antara 2 baris             = 2/3 . H

= 2/3 x 40 = 26,67 mm        

Ukuran huruf diperoleh berdasarkan perhitungan dengan jarak pandang sejauh 8 m. Ukuran tinggi huruf atau angka dalam mm (H) sebesar 40 mm, lebar huruf besar sebesar 26.67 mm, lebar huruf kecil sebesar 17.78 mm, tebal huruf besar sebesar 4.16 mm, tebal huruf kecil sebesar 2.96 mm, serta tinggi huruf kecil (h) sebesar 26.67 mm. Jarak antara huruf dan angka sebesar 8 mm, jarak antara 2 huruf sebesar 10 mm, serta jarak antara 2 baris sebesar 26.67 mm. berikut ini adalah contoh penulisannya:

4.2.      Analisis

Analisis dari video yang dirancang ditujukan untuk memperjelas pembahasan yang telah dilakukan. Analisis dalam pembuatan laporan modul display ini meliputi analisis prinsip dan tipe display, serta analisis kelebihan dan kekurangan video yang dirancang. Berikut ini adalah penjelasannya.

4.2.1    Analisis Prinsip dan Tipe Display

Prinsip-prinsip yang digunakan dalam perancangan video ini adalah proximity, symetry, serta continuity. Prinsip proximity yaitu video dapat dimengerti walaupun hanya sepintas dilihat dari isi pesannya. Prinsip symmetry pada video ditunjukkan dari penggunaan gambar dan tulisan yang seimbang. Prinsip terakhir yang digunakan dalam perancangan video ini adalah continuity, yaitu display yang dibuat merupakan satu kesatuan yang utuh antara informasi pesa.n yang disampaikan oleh gambar dengan informasi pesan yang disampaikanmelalui tulisan. Prinsip similarity tidak digunakan dalam perancangan video ini. Apabila prinsip ini digunakan maka video yang dibuat menjadi tidak menarik, karena dalam prinsip ini hanya boleh digunakan tiga kombinasi warna. Hal ini juga bertentangan dengan syarat-syarat perancangan video yang baik, yaitu menggunakan warna-warna yang menarik.Video ini berdasarkan lingkungan termasuk dalam tipe display statis karena memberikan informasi tidak berdasarkan waktu. Video yang dibuat iniberdasarkan tujuannya termasuk dalam tipe display khusus, Video ini termasuk display khusus karena video ini hanya ditujukan kepada para pekerja bangunan  Berdasarkan informasi yang disampaikan, video ini termasuk tipe display kualitatif karena informasi yang disampaikan tersebut tidak berbentuk data numerik. Berdasarkan panca indera, video yang dirancang termasuk dalam visual display dan auditory display, karena dapat dilihat oleh panca indera mata dan telinga.

4.2.2    Analisis Ukuran dan Warna

Ukuran tuliasan yang digunakan pada video yang bertemakan ergonomi didapatkan setelah melakukan perhitungan berdasarkan rumus yang ada. Video yang telah dibuat ingin dapat dilihat dari jarak penglihatan 8 meter sehingga tinggi huruf (H) sebesar 40 mm. Tinggi huruf kecil, tebal huruf jarak antara 2 kata dan lebar huruf besar adalah 26,67 mm. Sedangkan tebal huruf besar 6,67 mm, tebal huruf kecil 2,96 mm dan jarak antara 2 huruf sebesar 10 mm. Kemudian jarak antara huruf dan angka sebesar 8 mm sedangkan lebar huruf kecil 17,78 mm. Karena dalam skema video yang dibuat hanya terdapat huruf dan tidak menggunakan angka kemudian hanya menggunakan huruf besar maka perhitungan yang diaplikasi terhadap video ini yaitu tinggi huruf (H), tebal huruf besar, jarak antara 2 huruf, jarak antara 2 kata dan lebar huruf besar. Secara keseluruhan, pada tulisan video yang bertemakan ergonomi ini tidak mengandung prinsip similarity yang berarti tidak boleh menggunakan lebih dari tiga warna. Hal tersebut dilakukan karena video yang dibuat berusaha menarik perhatian para penontonnya. Salah satu caranya adalah dengan penggunaan warna yang bermacam-macam tetapi tidak berlebihan.

4.2.3    Analisis Kelebihan dan Kekurangan

Video yang dirancang ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari  video ini adalah dapat memberikan informasi bagi pekerja mengenai pesan ergonomi bagaimana pentingnya menggunakan perlengkapan keselamatan kerja di lingkungan kerja, contohnya perlengkapan pada video ini dengan menggunakan helm dan sarung tangan  pada saat bekerja. Hal tersebut berguna untuk menjaga keselamatan pekerja dari resiko kecelakaan pada saat bekerja, melindungi bagian kepala dan tangan. Melalui video ini informasi dapat diberikan dengan jelas kepada para pekerjanya. 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1       Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dibuat dapat disimpulkan beberapa kesimpulan yang akan menjawab tujuan dari penulisan laporan akhir ini. Kesimpulan dari modul display adalah sebagai berikut:

  1. Tipe-tipe yang digunakan dalam pembuatan display, yaitu tipe Video yang pertama termasuk display khusus, display kualitatif Dan berdasarkan panca indera, video yang dirancang termasuk dalam visual display dan auditory display.
  2. 2.      Prinsip-prinsip yang digunakan, yaitu Prinsip proximity, prinsip symmetry, prinsip         continuity, dan prinsip similarity.
    1. Video yang dirancang ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari  video ini adalah dapat memberikan informasi bagi pekerja mengenai pesan ergonomi bagaimana pentingnya menggunakan perlengkapan keselamatan kerja di lingkungan kerja, contohnya perlengkapan pada video ini dengan menggunakan helm dan sarung tangan pada saat bekerja. Hal tersebut berguna untuk menjaga keselamatan pekerja dari resiko kecelakaan pada saat bekerja dan melindungi bagian kepala dan tangan.
    2. Tinggi huruf atau angka 40 mm, lebar huruf besar 26,67 mm, lebar huruf kecil 17,78 mm, tebal huruf besar 6,67 mm, tebal huruf kecil 2,96 mm, tinggi huruf kecil 26,67 mm, jarak antar huruf dan angka 8 mm, jarak antara 2 huruf 10 mm, dan jarak antara 2 baris 26,67 mm.

5.2       Saran

            Menyadari bahwa laporan akhir ini tidak luput dari kekurangan, untuk pembuatan video harus lebih di dalami maksud dari pembuatan dan konsep pembuatan display harus mampu dapat memberikan arti yang jelas, agar pesan yang disampaikan bias dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung : Institut Teknologi Bandung, 1979.

Nurmianto, Eko. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Widya 1991.

http://wikipedia.com/organisasi.org/definisi-pengertian-Display-kegunaan-display-display-secara-lengkap.search/tahun 2011.

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Uncategorized

 

Laporan Akhir Fisiologis

ABSTRAKSI

 

 

Carolus Spinola A. E. P.(32409884), Chuwairul Muchazis(35409636), Didi Priatna(35409740), Eflizarty Azahra R.(32409234), Iman Nurrohim (32409807).

PENGUKURAN KINERJA FISIOLOGI

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2011.

Kata Kunci : Kinerja, Denyut Jantung, Sepeda Statis.            

 

Setiap hari manusia membutuhkan energi untuk melakukan aktifitas yang bermacam-macam. Dalam melakukan aktifitas, manusia pasti akan merasa kelelahan yang menyebabkan menurunnya produktifitas kerja dari individu itu sendiri. Akan tetapi manusia mempunyai keterbatasan dalam segi fisik maupun material. Keterbatasan yang dimiliki disebabkan oleh lingkungan kerja fisik, perubahan fungsi tubuh manusia serta pekerjaan yang dilakukan. Modul pengukuran kinerja fisiologi, dilakukan pada pengukuran konsumsi oksigen dan energi pada pekerjaan menggunakan sepeda statis. Pengukuran tersebut dilakukan secara tidak langsung. Pemilihan sepeda statis sebagai percobaan yang dilakukan karena penggunaan sepeda statis membutuhkan energi yang dibutuhkan untuk mengukur kinerja fisiologi.

Nilai konsumsi energy dan konsumsi oksigen sebesar 1,893602 kkal/menit dan 0,3945 liter/menit, Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam adalah 104,3333 denyut/menit, 109,8 denyut/menit dan 115,7143 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 25 km/jam adalah 115 denyut/menit, 120,6 denyut/menit dan 129 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 30 km/jam adalah 118, 3333 denyut/menit, 136,4 denyut/menit dan 147,8571 denyut/menit. Waktu recovery percobaan dari pekerjaan sepeda statis pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam, 30 km/jam berturut-turut adalah 1 menit, 1 menit, 2 menit, 2 menit, 3 menit, 5 menit, 4 menit, 6 menit dan 7 menit. Waktu recovery teoritis dalam menit dari pekerjaan sepeda statis pada waktu 2 menit, 4 menit, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam, 30 km/jam berturut-turut adalah 0,57091 menit, 1,116618 menit, 1,585368 menit, 0,469965 menit, 0,931718 menit, 1,21175 menit, 0,42754 menit, 0,576446 menit dan 0,599036 menit.

 

Daftar Pustaka (2003 – 2008)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1              Latar Belakang

Setiap hari manusia membutuhkan energi untuk melakukan aktifitas yang bermacam-macam. Ketika melakukan aktifitas, terkadang manusia tidak menyesuaikan antara energi dan kemampuan yang dimiliki dengan energi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut sehingga mengakibatkan kelelahan yang menyebabkan menurunnya produktifitas kerja. Kelelahan kerja ini harus dihindari, maka perlu dipelajari suatu metode pengukuran fungsi tubuh manusia yang berkaitan dengan keterbatasan yang dimiliki manusia selama beraktifitas yaitu metode pengukuran kinerja fisiologi. Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang organisme beserta bagian-bagian fisik secara keseluruhan.

Modul pengukuran kinerja fisiologi, dilakukan pada pengukuran konsumsi oksigen dan energi pada pekerjaan menggunakan sepeda statis. Pengukuran tersebut dilakukan secara tidak langsung untuk mendapatkan besarnya konsumsi oksigen dan energi yang dibutuhkan. Dilakukan pengumpulan data denyut jantung, temperatur tubuh, dan waktu recovery percobaan dengan variasi kecepatan sepeda statis dan waktu aktivitas yang berbeda-beda yang selanjutnya dihitung untuk mendapatkan konsumsi oksigen dan energi yang dibutuhkan. Pemilihan sepeda statis sebagai percobaan yang dilakukan karena penggunaan sepeda statis membutuhkan energi yang besar sehingga dapat dengan jelas  diukur konsumsi energi yang dibutuhkan dengan mengukur kinerja fisiologinya.

 

1.2              Perumusan Masalah

Perumusan masalah pada laporan akhir ini adalah bagaimana cara mengukur konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan oleh operator. Bagaimana mengukur waktu istirahat secara teoritis berdasarkan rumus.

 

 

1.3              Pembatasan Masalah

            Pembatasan masalah diperlukan agar tidak menyimpang dalam pembahasan mengenai fisiologi. Berikut ini adalah pembatasan yang diperlukan untuk membatasi masalah-masalah dalam fisiologi tersebut:

  1. Pengambilan data dilakukan di Laboratorium Teknik Industri Universitas Gunadarma pada hari Senin, 17 Oktober 2011 pukul 10.30 sampai 13.00 WIB.
  2. Data yang diambil adalah denyut jantung awal, denyut jantung saat percobaan dan denyut jantung saat recovery serta suhu tubuh awal dan akhir.

3.    Percobaan sepeda statis yang hanya dilakukan oleh seorang operator dengan kecepatan 20 km/Jam, 25 km/Jam dan 30 km/Jam dengan waktu selama 2 menit, 4 menit, dan 6 menit.

4.    Pengukuran detak jantung dilakukan setiap 1 menit.

5.    Alat yang digunakan seperti sepeda statis, pulsemeter, termometer dan stopwatch.

 

1.4              Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan sesuai dengan yang diharapkan pada modul fisiologis. Berikut ini adalah tujuan selengkapnya:

1.    Mengetahui banyaknya konsumsi energi dan oksigen selama percobaan.

2.    Mengetahui kecepatan rata-rata denyut jantung operator pada saat melakukan percobaan sepeda statis dan rata-rata denyut jantung untuk kecepatan berbeda dengan waktu percobaan yang berbeda.

3.    Mengetahui perubahan suhu tubuh operator sebelum dan sesudah melakukan percobaan.

4.    Mengetahui perbandingan waktu recovery teoritis dan waktu recovery percobaan.

 

 

 

 

1.5        Sistematika Penulisan

            Sistematika penulisan berguna untuk mempermudah pembaca memahami pembahasan dan dapat menarik kesimpulan. Laporan akhir analisis perancangan kerja dan ergonomi 2 ini dilakukan pengelompokan penulisan kedalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I      PENDAHULUAN

Berisi mengenai latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan praktikum, dan sistematika penulisan. Penulisan pada pendahuluan untuk mengetahui apa saja yang ingin dibahas mengenai modul fisiologi.

BAB II    LANDASAN TEORI

Menerangkan mengenai tujuan pustaka bahwa penulisan Laporan Akhir Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 tentang fisiologi. Penulisan dalam landasan teori yaitu sebagai informasi yang mempermudah pemahaman dan pengertian yang membahas pengukuran kinerja fisiologi.

BAB III   METODE PENGAMBILAN DATA

Metode pengambilan data yang menerangkan dalam menerapkan skema pengambilan data pada modul fisiologi. Metode pengambilan data ini menjelaskan juga mengenai alat yang digunakan pada modul fisiologi.

BAB IV   PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Berisi mengenai pembahasan yang terdiri dari grafik analisis konsumsi energi dan oksigen, periode istirahat. Serta analisis kecepatan rata-rata denyut jantung, perubahan temperatur, serta perbandingan recovery percobaan dan teoritis.

BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN

                 Bab V berisi kesimpulan dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Bab ini juga berisi saran yang ditunjukan bagi laporan akhir serta pelaksanaan Praktikum Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya agar dapat berjalan lebih baik lagi.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

2.1       Sejarah Fisiologi

Fisiologi eksperimental diawali pada abad ke-17, ketika ahli anatomi William Harvey menjelaskan adanya sirkulasi darah. Herman Boerhaave sering disebut sebagai bapak fisiologi karena karyanya berupa buku teks berjudul Institutiones Medicae (1708) dan cara mengajarnya yang cemerlang di Leiden. William Harvey (1 April 1578 – 3 Juni 1657) ialah dokter yang mendeskripsikan sistem peredaran darah yang dipompakan sekeliling tubuh manusia oleh jantung, ini mengembangkan gagasan René Descartes yang dalam deskripsi tubuh manusianya bahwa arteri dan vena ialah pipa dan membawa makanan ke sekeliling tubuh. Ilmu Fisiologi telah diajarkan sejak tahun 1953, dan dikenal sebagai Ilmu Faal. Pada kurun waktu tahun 1953 – 1968 ilmu fisiologi merupakan ilmu yang diberikan pada masa bachelor tingkat I yang kemudian dikenal sebagai sarjana muda.

Berdasarkan objek kajiannya dikenal fisiologi manusiafisiologi tumbuhan, dan fisiologi hewan, meskipun prinsip fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organismeyang dipelajari. Sebagai contoh, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan sebagian atau seluruhnya pada sel manusia.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

2.2       Pengertian Fisiologi

Fisiologi adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi. Istilah ini dibentuk dari kata Yunani Kuna φύσις, physis, “asal-usul” atau “hakikat”, dan λογία, logia, “kajian”. Fisiologi, dari kata Yunani physis = ‘alam’ dan logos = ‘cerita’, adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup. Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.

Fisiologi dibagi menjadi fisiologi tumbuhan dan fisiologi hewan tetapi prinsip dari fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organisme yang dipelajari. Misalnya, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan pada sel manusia. Fisiologi hewan bermula dari metode dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran fisiologi manusia yang kemudian meluas pada spesies hewan selain manusia. Fisiologi tumbuhan banyak menggunakan teknik dari kedua bidang ini. Cakupan subjek dari fisiologi hewan adalah semua makhluk hidup. Banyaknya subjek menyebabkan penelitian di bidang fisiologi hewan lebih terkonsentrasi pada pemahaman bagaimana ciri fisiologis berubah sepanjang sejarah evolusi hewan. Cabang ilmu lain yang berkembang dari fisiologi adalah biokimia, biofisika, biomekanika, dan farmakologi.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

Definisi Bekerja menurut toole adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu barang atau jasa yang bermanfaat dan berguna  bagi orang lain, yang mungkin segera terkesan adalah aspek sosial dari bekerja dalam pengertian sempit yaitu karya persembahan seseorang kepada orang lain. Namun jika diteliti lebih dalam tersirat makna lain yaitu bahwa berkarya untuk orang lain seseorang akan mendapatkan penghargaan atas hasil karyanya itu. Penghargaan dari orang lain inilah yang antara lain dicari juga oleh seseorang dan ini bukan saja dalam bentuk materi tetapi juga dalam bentuk pengakuan, pujian, penghormatan, dan lain-lain (Sritomo, 2008).

 

2.3       Bidang Fisiologi

Bidang fisiologi Fisiologi memiliki beberapa subbidang. Elektrofisiologi berkaitan dengan cara kerja saraf dan otot; neurofisiologi mempelajari fisiologi otak; fisiologi sel menunjuk pada fungsi sel secara individual. Banyak bidang yang berkaitan dengan fisiologi, diantaranya adalah Ekofisiologi yang mempelajari efek ekologis dari ciri fisiologi suatu hewan atau tumbuhan dan sebaliknya. Genetika bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi fisiologi hewan dan tumbuhan. Tekanan lingkungan juga sering menyebabkan kerusakan pada organisme eukariotik. Organisme yang tidak hidup di habitat akuatik harus menyimpan air dalam lingkungan seluler. Pada organisme demikian, dehidrasi dapat menjadi masalah besar. Dehidrasi pada manusia dapat terjadi ketika terdapat peningkatan aktivitas fisik. Dalam bidang exercise physiology, telah dilakukan berbagai penelitian mengenai efek dehidrasi terhadap homeostasis.

 

2.4       Pengertian Kerja

Pengertian atau definisi dari kerja adalah semua aktivitas yang secara sengaja dan berguna dilakukan manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya,baik sebagai individu maupun sebagai umat keseluruhan. Studi ergonomi berkaitan dengan kerja manusia dalam hal ini ditujukan untuk mengevaluasi dan merancang kembali tata cara kerja yang harus diaplikasikan agar dapat memberikan peningkatan efektifitas dan efesiensi. Selain juga kenyamanan ataupun keamanan bagi pekerjanya dalam melakukan suatu pekerjaan. Salah satu tolak ukur (selain waktu) yang diaplikasikan untuk mengevaluasi apakah tata cara sudah dirancang baik atau belum adalah dengan mengukur

pengamatan energi kerja yang harus dilakukan untuk melakukan aktivitasaktivitas tersebut. Berat ringannya suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan dapat ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dapat diukur lewat pengukuran anggota tubuh atau fisik manusia, antara lain:

  1. Laju detak jantung
  2. Tekanan darah
  3. Temperatur badan
  4. Konsumsi oksigen yang dihirup
  5. Kandungan kimia dalam tubuh
  6. Laju pengeluaran keringat

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

 

 

2.5       Pembagian Kerja

Dalam perencanaan berbagai kegiatan atau pekerjaan untuk pencapaian tujuan tentunya telah di tentukan.. Upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan pekerjaan yang mungkin saja bersifat kompleks menjadi lebih sederhana dan spesifik dimana setiap orang akan ditempatkan dan di tugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik (Nurmianto, 2003). Oleh karena itu  secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu kerja fisik (otot) dan kerja mental, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kerja Fisik

Pengeluaran energi relatif banyak dan pada jenis ini dibedakan lagi menjadi dua cara:

  1. Kerja Statis, yaitu:
  2. Tidak menghasilkan gerak.
  3. Kontraksi otot bersifat isometris (tegang otot bertambah sementara tegangan otot tetap).
  4. Kelelahan lebih cepat terjadi.
  5. Kerja Dinamis, yaitu:
    1. Menghasilkan gerak.
    2. Kontraksi otot bersifat isotonis (panjang otot berubah sementara tegangan otot tetap).
    3. Kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian).
    4. Kelelahan relatif agak lama terjadi.
    5. e.         Kerja Mental

 

2.6              Kriteria Sistem Kerja

            Kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja (Nurmianto, 2003). Berikut merupakan kriteria yang terdapat dalam suatu sistem kerja.

 

 

  1. Kriteria Faal

Meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi oksigen, tekanan darah, tingkat penguapan, temperatur tubuh, komposisi kimia dalam air seni, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh selama bekerja.

  1. Kriteria Kejiwaan

Meliputi kejenuhan atau kejemuan, emosi, motivasi, sikap, dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama bekerja.

  1. Kriteria Hasil Kerja

Meliputi pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari pekerja selama bekerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi kerja dengan melalui hasil kerja yang diperoleh dari pekerja.

 

2.7       Kelelahan Kerja

Definisi umum dari kelelahan kerja adalah suatu kondisi dimana terjadi pada syaraf dan otot manusia, sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Kelelahan dipandang dari sudut industri adalah pengaruh dari kerja pada pikiran dan tubuh manusia yang cenderung untuk mengurangi kecepatan kerja mereka atau menurunkan kualitas produksi dari performasi optimis seorang operator. Pengukuran kelelahan dapat dilakukan dengan beberapa cara (Nurmianto, 2003). Berikut ini adalah cara untuk mengukur tingkat kelelahan.

  1. Mengukur kecepatan denyut jantung.
  2. Mengukur kecepatan pernafasan.
  3. Mengukur tekanan darah.
  4. Jumlah oksigen yang terpakai dalam tubuh.
  5. Perubahan temperatur tubuh.
  6. Perubahan komposisi kimia dalam darah dan urin.
  7. Menggunakan alat uji kelelahan, yaitu Riken Fatique Indicator.

 

 

2.8       Faktor Kelelahan Kerja

Terdapat beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelelahan dalam bekerja (Nurmianto, 2003). Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelelahan dalam bekerja.

  1. Penentuan dan lamanya waktu kerja.
  2. Sikap mental pekerja.
  3. Besarnya beban tetap.
  4. Kemonotonan pekerjaan dalam lingkungan kerja yang tetap.
  5. Kondisi tubuh operator pada waktu melaksanakan pekerjaan.
  6. Lingkungan fisik kerja.
  7. Kecapaian kerja.
  8. Jenis dan kebiasaan olahraga atau latihan.
  9. Jenis kelamin.
  10. Umur.
  11. Sikap kerja.

 

2.9       Kelelahan Otot

Kelelahan otot adalah kelelahan yang terjadi karena kerja otot, dengan adanya aktivitas kontraksi dan relaksasi. Tipe aktivitas otot oleh Ryan dalam Work & Effort adalah:

  1. Pengeluaran sejumlah energi secara cepat.
  2. Pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus.
  3. Pekerjaan setempat atau lokal yang terus-menerus berulang dengan pengeluaran energi setempat yang besar.
  4. Sikap yang dibatasi (kerja statis).

            Setiap beraktifitas manusia memerlukan energi. Untuk mengurangi kelelahan otot (Brouha dalam Physiology in Industry) mempunyai saran-saran sebagai berikut:

 

 

  1. Mengurangi beban kerja dengan melakukan perancangan kerja.
  2. Mengatur perioda istirahat yang cukup didasarkan atas pertimbangan fisiologi.
  3. Mengatur regu-regu kerja dengan baik dan menyeimbangkan tekanan fisiologi diantara anggota pekerja.
  4. Menyediakan air dan garam yang cukup bagi pekerja yang bekerja dalam lingkungan kerja yang panas.
  5. Menyeleksi pekerja yang didasarkan atas kemampuan fisik mereka dan tingkat pelatihan atau training untuk aktivitas-aktivitas tertentu atau khusus yang membutuhkan energi yang banyak atau berat.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

BAB III

METODE PENGAMBILAN DATA

 

 

3.1       Flowchart Pengambilan Data

            Metode pengambilan data digambarkan dengan menggunakan flowchart. Berikut ini adalah urutan kegiatan yang dilakukan dalam pengambilan data sepeda statis dengan flowchart:

 

 

Gambar 3.1 Flowchart Pengambilan Data

 

3.2       Penjelasan Flowchart Pengambilan Data

            Langkah pertama adalah menerima pembagian jenis percobaan yang telah ditentukan oleh asisten laboratorium, yaitu sepeda statis. Setelah mendapatkan jenis percobaan maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam pengambilan data seperti sepeda statis, thermometer, stopwatch, pulsemeter, dan lembar data pengamatan beserta alat-alat tulis untuk mencatat hasil percobaan yang telah dilakukan. Tahap selanjutnya adalah menentukan operator yang akan melakukan percobaan sepeda statis. Pengukuran denyut jantung awal (D0) dan suhu tubuh awal (T0) dilakukan sebelum percobaan sepeda statis dimulai.

Detak jantung awal operator yang melakukan percobaan harus berada pada 80-100, jika tidak maka lakukan pengukuran kembali sampai detak jantung berada pada nilai antara 80-100. Kemudian lakukan percobaan sepeda statis.Pengukuran denyut jantung operator per menit dilakukan selama operator tersebut melakukan percobaan sepeda statis yaitu selama  2 menit, 4 menit, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam dan 30 km/jam. Pengukuran denyut jantung selama istirahat juga dilakukan setiap menitnya dan suhu tubuh setelah percobaan selesai dilakukan. Istirahat dilakukan sampai denyut jantung operator sama dengan atau kurang dari denyut jantung awal (Dn ≤ D0). Kemudian melakukan percobaan selanjutnya sampai data tercukupi, merapihkan alat.

 

3.3       Peralatan yang Digunakan

            Pengambilan data menggunakan beberapa peralatan yang digunakan. Berikut ini adalah peralatan yang digunakan beserta fungsinya.

  1. Lembar data, mencatat hasil percobaan yang dilakukan.
  2. Sepeda statis, media operator untuk melakukan percobaan.
  3. Thermometer, mengukur suhu tubuh awal dan suhu tubuh akhir operator.
  4. Stopwatch, mengukur waktu dalam kegiatan pengambilan data.
  5. Pulsemeter, menghitung denyut jantung awal dan denyut akhir operator.
  6. Pulpen, mencatat hasil percobaan yang dilakukan

 

3.4       Data Hasil Percobaan

Data hasil percobaan berdasarkan pengukuran pada percobaan yang telah dilakukan. Berikut ini adalah data-data hasil percobaan yang dilakukan operator.

Tabel 3.1 Lembar Pengamatan Aktivitas pada Percobaan Sepeda Statis

LEMBAR  PENGAMATAN PENGUKURAN FISIOLOGI

SEPEDA STATIS

Nama operator       : Iman Nurrohim                         Suhu Tubuh Awal           : 360 C

Umur operator       : 22 Tahun                                   Denyut Jantung Awal     : 89

Waktu Aktifitas

KECEPATAN

20 Km/Jam

25 Km/Jam

30 Km/jam

 

 

 

 

2 Menit

 

 

 

 

 

D0 : 89

T0  :360 C

D1 : 111

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 122

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 128

D2 : 113

D2 : 134

D2 : 138

 

 

 

 

 

 

T1 : 350 C

D3 : 89

 

 

 

 

 

 

T1 : 340 C

D3 : 118

 

 

 

 

 

 

T1 : 340 C

D3 : 127

D4 :

D4 : 89

D4 : 112

D5 :

D5 :

D5 : 102

D6 :

D6 :

D6 : 89

D7 :

D7 :

D7 :

D8 :

D8 :

D8 :

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

 

 

 

 

 

4 Menit

 

 

D0 : 89

T0  :350 C

D1 : 111

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 123

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 132

D2 : 114

D2 : 127

D2 : 144

D3 : 117

D3 : 130

D3 : 153

D4 : 118

D4 : 134

D4 : 164

 

 

 

T1 : 340 C

 

D5 : 89

 

 

 

T1 : 370 C

D5 : 120

 

 

 

T1 : 360 C

D5 : 151

D6 :

D6 : 105

D6 : 140

D7 :

D7 : 89

D7 : 128

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

D8 : 116

D9 : 102

D10: 88

 

 

 

 

6 Menit

 

 

 

 

D0 : 89

T0 : 340 C

D1 : 114

D0 : 89

T0  : 370 C

D1   : 119

D0 : 88

T0  : 360 C

D1 : 136

D2 : 116

D2   : 133

D2 : 147

D3 : 118

D3   : 138

D3 : 154

D4 : 119

D4   : 140

D4 : 165

D5 : 124

D5   : 141

D5 : 170

D6 : 130

D6   : 143

D6 : 175

 

 

T1 : 340 C

D7 : 110

 

 

T1 : 340 C

D7   : 133

 

 

T1 : 370 C

D7 : 168

D8 : 89

D8   : 120

D8 : 155

 

D9   : 107

D9 : 143

D10 : 98

D10: 130

D11 : 89

D11: 115

D12: 100

D13: 88

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

 

 

4.1.      Pembahasan

            Setelah melakukan pengambilan data dari kegiatan yang dilakukan operator, maka selanjutnya dilakukan pengolahan data. Pengolahan yang diperoleh dilakukan untuk melihat kinerja fisiologis operator.

 

4.1.1    Grafik Analisis

            Grafik analisis menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan aktivitas. Berikut ini grafik yang menunjukan pengukuran denyut jantung dan waktu berdasarkan kecepatan dan rentang waktu yang gunakan saat melakukan aktivitas.

 

Gambar 4.1 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 20 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 20 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 113 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Pada kegiatan pertama ini waktu recovery yang dibutuhkan sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 117 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 118 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan masih sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 116 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 118 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 124 dan 130 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 110 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator belum merasakan kelelahan yang berlebih. Waktu recovery yang dibutuhkan juga dipengaruhi hal yang dilakukan operator saat istirahat contohnya seperti minum. Hal ini akan mempercepat waktu recovery yang dibutuhkan dibandingkan jika tidak minum.

 

Gambar 4.2 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 25 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 25 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 122 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 118 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan tidak banyak karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 123 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 127 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 130 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 3 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 120 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 105 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga menjadi 89 denyut/menit.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 133 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 138 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 140 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 141 dan 143 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 5 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 133 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, dan lima menjadi 120,107,98, dan 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator mulai merasakan kelelahan akibat melakukan kegiatan tersebut.

 

Gambar 4.3 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 30 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 30 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 128 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 138 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 4 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 127 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, dan empat menjadi 112,102, dan 89 denyut/menit. waktu recovery yang dibutuhkan lebih banyak karena operator sudah merasakan kelelahan akibat dari kegiatan dengan kecepatan yang berbeda sebelumnya telah dilakukan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 132 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 144 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 153 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 164 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 151 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 140 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga, empat, lima dan enam menjadi 128, 116, 102, dan 88 denyut/menit.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 88 denyut /menit bertambah menjadi 136 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 147 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 154 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 165 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 170 dan 175 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 7 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 168 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh menjadi 155, 143, 130, 115, 100, dan 88 denyut/menit. Operator sudah merasa sangat kelelahan. Hal ini terlihat dari detak jantung yang sangat tinggi mencapai 175 denyut/menit dan waktu recovery yang dibutuhkan pada kegiatan ini paling lama yaitu 7 menit.

 

Gambar 4.4 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 2 Menit

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan jangka waktu 2 menit. Pada kecepatan 20, 25 dan 30 km/jam. Dimulai pada kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 113 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Pada kegiatan pertama ini waktu recovery yang dibutuhkan sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan juga dalam jangka waktu 2 menit dan dengan kecepatan 25 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 122 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 118 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan tidak banyak karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan juga dalam jangka waktu 2 menit dengan kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 128 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 138 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 4 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 127 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, dan empat menjadi 112,102, dan 89 denyut/menit. waktu recovery yang dibutuhkan lebih banyak karena operator sudah merasakan kelelahan akibat dari kegiatan dengan kecepatan yang berbeda sebelumnya telah dilakukan.

Dari grarik di atas juga terlihat tingkat kelelahan operator yang bertambah karena untuk setiap perubahan kecepatan didahului kegiatan bersepeda di sepeda statis pada kecepatan yang sama namun jangka waktunya berbeda sehingga ketika dilihat berdasarkan waktunya terlihat jelas perubahan tingkat kelelahan pada operator.

 

Gambar 4.5 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 4 Menit

Pada grafik di atas merupakan gambaran denyut jantung operator saat  melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dengan kecepatan 20, 25, 30 km/jam. Dimulai pada kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 117 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 118 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan masih sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dan pada kecepatan 25 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 123 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 127 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 130 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 3 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 120 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 105 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga menjadi 89 denyut/menit.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dan pada kecepatan 30 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 132 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 144 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 153 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 164 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 151 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 140 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga, empat, lima dan enam menjadi 128, 116, 102, dan 88 denyut/menit.

 

Gambar 4.6 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 6 Menit

 

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit pada kecepatan 20, 25, dan 30 km/jam. Mulai dari kecepatan 20 km/jam Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 116 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 118 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 124 dan 130 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 110 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator belum merasakan kelelahan yang berlebih.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit pada kecepatan 25 km/jam. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 133 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 138 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 140 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 141 dan 143 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 5 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 133 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, dan lima menjadi 120, 107, 98, dan 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator mulai merasakan kelelahan akibat melakukan kegiatan tersebut.

Pada kegiatan yang terakhir operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit dan dengan kecepatan 30 km/jam. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 88 denyut /menit bertambah menjadi 136 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 147 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 154 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 165 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 170 dan 175 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 7 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 168 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh menjadi 155, 143, 130, 115, 100, dan 88 denyut/menit. Melalui grafik di atas terlihat jelas bahwa operator sudah merasa sangat kelelahan yang terlihat dari detak jantung yang sangat tinggi mencapai 175 denyut/menit serta waktu recovery yang dibutuhkan pada kegiatan ini paling lama yaitu 7 menit.

 

4.1.2    Konsumsi Energi dan Oksigen

            Konsumsi energi dan oksigen dibutuhkan dalam melakukan suatu kegiatan. Berikut ini perhitungan untuk mencari konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan.

* rata-rata denyut jantung

a. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 2 menit

 

b. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 4 menit

 

c. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 6 menit

 

d. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 2 menit

 

e. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 4 menit

 

f. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 6 menit

 

g. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 2 menit

 

h. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 6 menit

 

j. Untuk secara keseluruhan

 

 

 

 

Sehingga rata-rata keseluruhan menjadi 133,1944 denyut per menit

Kemudian untuk menghitung rata-rata denyut jantung saat istirahat dilakukan perhitungan untuk  . Berikut ini perhitungannya:

  1. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1.  kecepatan 20 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan secara keseluruhan yaitu

 

 

 

Jumlah keseluruhan waktu istirahat =   

 

 

 

 

Dimana :

Y = Energi (Kkal/menit)

 = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)(rata-rata)

Untuk Y pada kecepatan 20 km/jam dengan kecepatan denyut jantung 112 denyut per menit

 

   = 5,156293 Kkal/menit

Berikut ini adalah tabel yang menunjukan nilai Y kerja:

Tabel 4.1 Perhitungan Nilai Y Kerja

Kecepatan

Waktu

(menit)

 

 

 

 

Y

20 km/jam

2

112

12544

5,156293

25 km/jam

2

128

16384

6,601287

30 km/jam

2

133

17689

7,10238

20 km/jam

4

115

13225

5,408832

25 km/jam

4

128,5

16512,25

6,650335

30 km/jam

4

148,25

21978,06

8,776389

20 km/jam

6

120,1667

14440,04

5,863667

25 km/jam

6

135,6667

18405,45

7,379277

30 km/jam

6

157,8333

24911,35

9,940624

keseluruhan

 

133,1944

17740,75

7,122338

 

Berikutnya, setelah melakukan perhitungan terhadap Y kerja dilakukan juga perhitungan untuk Y istirahat. Berikut ini adalah tabel yang menunjukan nilai Y istirahat:

 

Tabel 4.2 Perhitungan Nilai Y Istirahat

Kecepatan

 

(detak/menit)

 

 

 

Y

(kkal/menit)

20 km/jam

89

7921

3,502259

25 km/jam

103

10609

4,449624

30 km/jam

107,5

11502,56

4,773806

20 km/jam

89

7921

3,502259

25 km/jam

104,6667

10955,12

4,574726

30 km/jam

120,8333

14600,69

5,924184

20 km/jam

99,5

9900,25

4,195447

25 km/jam

109,4

11968,36

4,944295

30 km/jam

128,4286

16493,91

6,643316

keseluruhan

112,87097

12739,86

5,228736

 

Konsumsi energi (KE) = Y kerja – Y istirahat (liter/menit)

Konsumsi oksigen (KO) = KE / 4,8 liter/menit

Berikut ini tabel perhitungannya :

Tabel 4.3 Perhitungan Konsumsi Energi

Kecepatan

Wktu

Y Kerja

Y Istirahat

Konsumsi Energi

Konsumsi Oksigen

20 km/jam

2

5,156293

3,502259

1,654034

0,34459

25 km/jam

2

6,601287

4,449624

2,151663

0,448263

30 km/jam

2

7,10238

4,773806

2,328574

0,48512

20 km/jam

4

5,408832

3,502259

1,906573

0,397203

25 km/jam

4

6,650335

4,574726

2,075609

0,432419

30 km/jam

4

8,776389

5,924184

2,852205

0,594209

20 km/jam

6

5,863667

4,195447

1,66822

0,347546

25 km/jam

6

7,379277

4,944295

2,434982

0,507288

30 km/jam

6

9,940624

6,643316

3,297308

0,686939

keseluruhan

 

7,122338

5,228736

1,893602

0,3945

 

Contoh perhitungan :

Konsumsi energi (KE) = 5,156293– 3,502259 = 1,654034 kkal/menit

Konsumsi oksigen (KO) = 1,654034 / 4,8 = 0,34459 liter/menit

 

4.1.3    Periode Istirahat (Waktu Recovery Teoritis)

            Setelah melakukan kegiatan, harus dilakukan recovery untuk mengembalikan kondisi fisik menjadi seperti semula. Recovery dilakukan selain untuk mengembalikan kondisi fisik juga untuk menjaga agar tidak terjadi kelelahan yang berlebihan. Berikut ini rumus untuk menentukan waktu istirahat secara teoritis.

 

Dimana :

R  = Waktu istirahat (menit)

T   = Total waktu kerja

K  = Energi yang dikeluarkan dalam bekerja (kkal/menit)

S   = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (kkal/menit)

Sebelum melakukan perhitungan untuk mencari lamanya waktu istirahat, terlebih dahulu dilakukan pencarian nilai s dengan rumus :

 

Dimana :

a   = nilai terkecil pada kelompok denyut jantung yang akan dicari S nya

b   = nilai terbesar pada kelompok denyut jantung yang akan dicari S nya

c   = nilai terkecil kelompok energy expenditure sesuai golongan denyut jantungnya

d   = nilai terbesar kelompok energy expenditure sesuai golongan denyut jantungnya

S   = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (kkal/menit)

Untuk nilai detak jantung per menit sebesar 112 detak per menit maka nilai S nya yaitu :

 

 

S = 1,2 +5 = 6,2 kkal/menit

Berikut tabel hasil penghitungan nilai S

Tabel 4.4 Perhitungan Nilai S

Kecepatan

Waktu (menit)

Nilai  (denyut/menit)

Nilai S (kkal/menit)

20 km/jam

2

112

6,2

25 km/jam

2

128

7,8

30 km/jam

2

133

8,3

20 km/jam

4

115

6,5

25 km/jam

4

128,5

7,85

30 km/jam

4

148,25

9,825

20 km/jam

6

120,1667

7,01667

25 km/jam

6

135,6667

8,56667

30 km/jam

6

157,8333

10,78333

keseluruhan

 

133,1944

8,31944

 

Berikutnya mencari nilai R

 menit

Berikut adalah tabel perhitungannya:

Tabel 4.5 Perhitungan Waktu Istirahat Teoritis  

Kecepatan

Waktu(menit)

K (kkal/menit)

S (kkal/menit)

R(menit)

20 km/jam

2

5,156293

6,2

0,57091

25 km/jam

2

6,601287

7,8

0,469965

30 km/jam

2

7,10238

8,3

0,42754

20 km/jam

4

5,408832

6,5

1,116618

25 km/jam

4

6,650335

7,85

0,931718

30 km/jam

4

8,776389

9,825

0,576446

20 km/jam

6

5,863667

7,01667

1,585368

25 km/jam

6

7,379277

8,56667

1,211775

30 km/jam

6

9,940624

10,78333

0,599036

 

 

 

 

 

4.2.      Analisis

Setelah dilakukan perhitungan terhadap data hasil pengamatan yang diperoleh, maka dapat dilakukan proses analisis. Proses analisis dilakukan untuk membandingkan antara hasil perhitungan teoritis dan hasil perhitungan aktual.

 

4.2.1    Kecepatan Rata-Rata Denyut Jantung

            Kecepatan mengayuh sepeda statis merupakan faktor yang menentukan rata-rata kecepatan denyut jantung. Kecepatan rata-rata denyut jantung didapat dari jumlah seluruh denyut jantung pada setiap kecepatan. Dibagi dengan banyaknya kecepatan ditambah 1. Berikut ini rumusnya.

 

Berikut ini merupakan tabel hasil ringkasan kecepatan rata-rata denyut jantung.

Tabel 4.6 Perhitungan Kecepatan Rata-rata

Waktu (menit)

Kecepatan (km/jam)

20

25

30

2

104.3333

115

118,3333

4

109,8

120,6

136,4

6

115,7143

129

147,8571

 

Berikut ini contoh perhitungannya untuk kecepatan 20 km/jam pada jangka waktu 2 menit :

 

Jadi, rata-rata kecepatan denyut jantung untuk kecepatan 20 km/jam pada jangka waktu 2 menit adalah 104,3333 denyut/menit. Hal yang dapat terlihat dari tabel perhitungan kecepatan rata-rata adalah ketika kecepatannya semakin ditambah maka kecepatan rata-rata denyut jantung pun akan meningkat dan semakin lama waktu operator mengayuh sepeda statisnya maka akan semakin besar pula kecepatan rata-rata denyut jantungnya.

 

 

4.2.2    Perubahan Temperatur

Temperatur tubuh operator pasti akan mengalami perubahan, dari sebelum melakukan kegiatan mengayuh pada sepeda statis sampai kegiatan mengayuh selesai. Berikut ini tabel perubahan temperatur yang terjadi pada tubuh operator.

Tabel 4.7 Perubahan Temperatur

Wkt

Kecepatan

20 km/jam

25 km/jam

30 km/jam

T0

T1

 

Ket

T0

T1

 

ket

T0

T1

 

Ket

2

36

35

1

turun

34

34

0

tetap

34

34

0

tetap

4

35

34

1

turun

34

37

3

naik

34

36

2

naik

6

34

34

0

tetap

37

34

3

turun

36

37

1

naik

 

Dari tabel di atas terlihat perubahan temperatur tubuh operator. Pada kegiatan pertama, yaitu mengayuh dengan kecepatan 20 km/jam temperatur tubuh operator turun 1 derajat dari temperatur awal. Perubahan temperatur terjadi karena kelelahan pada tubuh operator dan tingkat pekerjaan dari operator belum tinggi jadi temperatur tubuh operator masih normal. Saat kelelahan dan tingkat pekerjaan yang dilakukan meningkat maka yang terjadi adalah temperatur tubuh operator naik hal ini terlihat pada kegiatan dengan kecepatan 25 km/jam dengan rentang waktu 4 menit. Hal ini juga tampak pada 2 kegiatan terakhir, yaitu pada kecepatan 30 km/jam dengan rentang waktu 4 menit yang mengalami kenaikan 2 derajat dan pada rentang waktu 6 menit yang mengalami kenaikan 1 derajat sehingga temperatur tubuh operator melebihi temperatur tubuh normalnya. Meningkatnya temperatur tubuh operator menunjukan adanya kelelahan yang terjadi pada fisik operator ketika melakukan pekerjaan secara terus menerus serta dengan beban kerja yang terus ditambah. Keringat juga dikeluarkan oleh tubuh untuk menjaga agar temperatur tubuh tidak terlalu tinggi, oleh karena itu perubahan temperatur operator juga tidak terlalu tinggi.

 

4.2.3    Konsumsi Energi Dan Oksigen

Energi dan oksigen yang lebih banyak dari kondisi normal pasti dibutuhkan oleh operator. Perhitungan banyaknya konsumsi energi dan oksigen dilakukan untuk mengetahui tingkat kebutuhan energi dan oksigen pada operator ketika melakukan kegiatan mengayuh pada sepeda statis. Secara keseluruhan kegiatan, operator mengkonsumsi energi sebesar 1,893602 kkal/menit dan mengkonsumsi oksigen sebanyak 0,3945 liter/menit. Konsumsi energi dan oksigen dipengaruhi oleh beratnya pekerjaan dan lama perkerjaan yang dilakukan oleh operator. Semakin lama kegiatan mengayuh sepeda statis semakin besar konsumsi energi dan oksigen yang diperlukan. Semakin berat kegiatan yang dilakukan oleh operator semakin besar juga konsumsi energi dan oksigen yang diperlukan.

 

4.2.4    Perbandingan Recovery Percobaan dan Teoritis

Waktu recovery teoritis merupakan waktu yang dibutuhkan oleh operator secara teoritis untuk mengembalikan denyut jantung menjadi seperti semula. Berikut ini adalah tabel perbandingan antara waktu recovery percobaan dan teoritis.

Tabel 4.8 Perbandingan Recovery Percobaan Dan Teoritis

Waktu

Recovery Percobaan

Recovery Teoritis

 

20

25

30

20

25

30

2

1

2

4

0,57091

0,469965

0,42754

4

1

3

6

1,116618

0,931718

0,576446

6

2

5

7

1,585368

1,211775

0,599036

 

            Dari tabel diatas, tampak perbedaan antara perhitungan secara teoritis dengan waktu istirahat yang dibutuhkan pada kenyataannya. Hal ini disebabkan karena pada perhitungan teoritis memperhatikan total waktu kerja, energi yang dikeluarkan dalam bekerja (kkal/menit) yang sesuai dengan percobaan tetapi pada pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan perhitungan teoritis dilakukan berdasarkan tabel. Hal inilah yang membuat perbedaan pada perhitungan percobaan dan teoritis berbeda karena energi rata-rata yang direkomendasikan tidak sama dengan energi rata-rata yang digunakan oleh operator untuk melakukan kegiatan mengayuh sepeda statis yang disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, pengaturan napas yang kurang baik, dan faktor-faktor yang lainnya yang menyebabkan energi yang direkomendasikan tidak sama dengan energi yang digunakan sehingga waktu istirahatnya pun berbeda antara kenyataan dengan perhitungan secara teoritis.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1       Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yang akan menjawab tujuan dari penulisan laporan akhirini. Kesimpulan dari modul pengukuran kinerja fisiologi adalah sebagai berikut:

1.  Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai konsumsi energi dan konsumsi oksigen sebesar 1,893602 kkal/menit dan 0,3945 liter/menit

2. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam adalah 104,3333 denyut/menit, 109,8 denyut/menit, dan 115,7143 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 25 km/jam adalah 115 denyut/menit, 120,6 denyut/menit, dan 129 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 30 km/jam adalah 118,3333 denyut/menit, 136,4 denyut/menit, dan 147,8571 denyut/menit. Hal ini menunjukan bahwa semakin berat beban pekerjaan dan semakin lama pekerjaan tersebut dilakukan maka jumlah denyut jantung operator tiap menitnya pun bertambah besar.

3. Perubahan temperatur dari pekerjaan menggunakan sepeda statis pada waktu 2, 4,dan 6 menit dengan kecepatan 20, 25, 30 km/jam berturut-turut adalah 1, 1, 0, 0, 3, 3, 0, 2 dan1 dalam  derajat Celcius. Hal ini menunjukan temperatur tubuh operator akan bertambah tinggi setelah melakukan pekerjaan dengan beban yang juga ditambah dan lamanya pekerjaan yang bertambah secara terus-menerus.

4. Tampak perbedaan antara perhitungan secara teoritis dengan waktu istirahat yang dibutuhkan pada kenyataannya. Sebagai contoh, pada kegiatan mengayuh sepeda statis selama 4 menit dengan kecepatan 25 km/jam secara teoritis dibutuhkan waktu istirahat 0,931718 menit tetapi pada kenyataannya operator membutuhkan waktu 3 menit untuk beristirahat. Perbedaan pada perhitungan percobaan dan teoritis terjadi karena energi rata-rata yang direkomendasikan tidak sama dengan energi rata-rata yang digunakan oleh operator untuk melakukan kegiatan mengayuh sepeda statis yang disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, pengaturan napas yang kurang baik, dan faktor-faktor yang lainnya yang menyebabkan energi yang direkomendasikan tidak sama dengan energi yang digunakan sehingga waktu istirahatnya pun berbeda antara kenyataan dengan perhitungan secara teoritis.

 

5.2       Saran

            Menyadari bahwa laporan akhir ini tidak luput dari kekurangan, berikut adalah saran yang dapat disampaikan seharusnya harus pemanasan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan data.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung : Institut Teknologi                     Bandung, 1979..

Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna Widya. 1995.

http://materipraktikumapk1.blogspot.com/2009/mtm-1_04.html.

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Uncategorized