RSS

Laporan Akhir Fisiologis

20 Mar

ABSTRAKSI

 

 

Carolus Spinola A. E. P.(32409884), Chuwairul Muchazis(35409636), Didi Priatna(35409740), Eflizarty Azahra R.(32409234), Iman Nurrohim (32409807).

PENGUKURAN KINERJA FISIOLOGI

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2011.

Kata Kunci : Kinerja, Denyut Jantung, Sepeda Statis.            

 

Setiap hari manusia membutuhkan energi untuk melakukan aktifitas yang bermacam-macam. Dalam melakukan aktifitas, manusia pasti akan merasa kelelahan yang menyebabkan menurunnya produktifitas kerja dari individu itu sendiri. Akan tetapi manusia mempunyai keterbatasan dalam segi fisik maupun material. Keterbatasan yang dimiliki disebabkan oleh lingkungan kerja fisik, perubahan fungsi tubuh manusia serta pekerjaan yang dilakukan. Modul pengukuran kinerja fisiologi, dilakukan pada pengukuran konsumsi oksigen dan energi pada pekerjaan menggunakan sepeda statis. Pengukuran tersebut dilakukan secara tidak langsung. Pemilihan sepeda statis sebagai percobaan yang dilakukan karena penggunaan sepeda statis membutuhkan energi yang dibutuhkan untuk mengukur kinerja fisiologi.

Nilai konsumsi energy dan konsumsi oksigen sebesar 1,893602 kkal/menit dan 0,3945 liter/menit, Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam adalah 104,3333 denyut/menit, 109,8 denyut/menit dan 115,7143 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 25 km/jam adalah 115 denyut/menit, 120,6 denyut/menit dan 129 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 30 km/jam adalah 118, 3333 denyut/menit, 136,4 denyut/menit dan 147,8571 denyut/menit. Waktu recovery percobaan dari pekerjaan sepeda statis pada waktu 2 menit, 4 menit dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam, 30 km/jam berturut-turut adalah 1 menit, 1 menit, 2 menit, 2 menit, 3 menit, 5 menit, 4 menit, 6 menit dan 7 menit. Waktu recovery teoritis dalam menit dari pekerjaan sepeda statis pada waktu 2 menit, 4 menit, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam, 30 km/jam berturut-turut adalah 0,57091 menit, 1,116618 menit, 1,585368 menit, 0,469965 menit, 0,931718 menit, 1,21175 menit, 0,42754 menit, 0,576446 menit dan 0,599036 menit.

 

Daftar Pustaka (2003 – 2008)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1              Latar Belakang

Setiap hari manusia membutuhkan energi untuk melakukan aktifitas yang bermacam-macam. Ketika melakukan aktifitas, terkadang manusia tidak menyesuaikan antara energi dan kemampuan yang dimiliki dengan energi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut sehingga mengakibatkan kelelahan yang menyebabkan menurunnya produktifitas kerja. Kelelahan kerja ini harus dihindari, maka perlu dipelajari suatu metode pengukuran fungsi tubuh manusia yang berkaitan dengan keterbatasan yang dimiliki manusia selama beraktifitas yaitu metode pengukuran kinerja fisiologi. Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang organisme beserta bagian-bagian fisik secara keseluruhan.

Modul pengukuran kinerja fisiologi, dilakukan pada pengukuran konsumsi oksigen dan energi pada pekerjaan menggunakan sepeda statis. Pengukuran tersebut dilakukan secara tidak langsung untuk mendapatkan besarnya konsumsi oksigen dan energi yang dibutuhkan. Dilakukan pengumpulan data denyut jantung, temperatur tubuh, dan waktu recovery percobaan dengan variasi kecepatan sepeda statis dan waktu aktivitas yang berbeda-beda yang selanjutnya dihitung untuk mendapatkan konsumsi oksigen dan energi yang dibutuhkan. Pemilihan sepeda statis sebagai percobaan yang dilakukan karena penggunaan sepeda statis membutuhkan energi yang besar sehingga dapat dengan jelas  diukur konsumsi energi yang dibutuhkan dengan mengukur kinerja fisiologinya.

 

1.2              Perumusan Masalah

Perumusan masalah pada laporan akhir ini adalah bagaimana cara mengukur konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan oleh operator. Bagaimana mengukur waktu istirahat secara teoritis berdasarkan rumus.

 

 

1.3              Pembatasan Masalah

            Pembatasan masalah diperlukan agar tidak menyimpang dalam pembahasan mengenai fisiologi. Berikut ini adalah pembatasan yang diperlukan untuk membatasi masalah-masalah dalam fisiologi tersebut:

  1. Pengambilan data dilakukan di Laboratorium Teknik Industri Universitas Gunadarma pada hari Senin, 17 Oktober 2011 pukul 10.30 sampai 13.00 WIB.
  2. Data yang diambil adalah denyut jantung awal, denyut jantung saat percobaan dan denyut jantung saat recovery serta suhu tubuh awal dan akhir.

3.    Percobaan sepeda statis yang hanya dilakukan oleh seorang operator dengan kecepatan 20 km/Jam, 25 km/Jam dan 30 km/Jam dengan waktu selama 2 menit, 4 menit, dan 6 menit.

4.    Pengukuran detak jantung dilakukan setiap 1 menit.

5.    Alat yang digunakan seperti sepeda statis, pulsemeter, termometer dan stopwatch.

 

1.4              Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan sesuai dengan yang diharapkan pada modul fisiologis. Berikut ini adalah tujuan selengkapnya:

1.    Mengetahui banyaknya konsumsi energi dan oksigen selama percobaan.

2.    Mengetahui kecepatan rata-rata denyut jantung operator pada saat melakukan percobaan sepeda statis dan rata-rata denyut jantung untuk kecepatan berbeda dengan waktu percobaan yang berbeda.

3.    Mengetahui perubahan suhu tubuh operator sebelum dan sesudah melakukan percobaan.

4.    Mengetahui perbandingan waktu recovery teoritis dan waktu recovery percobaan.

 

 

 

 

1.5        Sistematika Penulisan

            Sistematika penulisan berguna untuk mempermudah pembaca memahami pembahasan dan dapat menarik kesimpulan. Laporan akhir analisis perancangan kerja dan ergonomi 2 ini dilakukan pengelompokan penulisan kedalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I      PENDAHULUAN

Berisi mengenai latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan praktikum, dan sistematika penulisan. Penulisan pada pendahuluan untuk mengetahui apa saja yang ingin dibahas mengenai modul fisiologi.

BAB II    LANDASAN TEORI

Menerangkan mengenai tujuan pustaka bahwa penulisan Laporan Akhir Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 tentang fisiologi. Penulisan dalam landasan teori yaitu sebagai informasi yang mempermudah pemahaman dan pengertian yang membahas pengukuran kinerja fisiologi.

BAB III   METODE PENGAMBILAN DATA

Metode pengambilan data yang menerangkan dalam menerapkan skema pengambilan data pada modul fisiologi. Metode pengambilan data ini menjelaskan juga mengenai alat yang digunakan pada modul fisiologi.

BAB IV   PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Berisi mengenai pembahasan yang terdiri dari grafik analisis konsumsi energi dan oksigen, periode istirahat. Serta analisis kecepatan rata-rata denyut jantung, perubahan temperatur, serta perbandingan recovery percobaan dan teoritis.

BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN

                 Bab V berisi kesimpulan dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Bab ini juga berisi saran yang ditunjukan bagi laporan akhir serta pelaksanaan Praktikum Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya agar dapat berjalan lebih baik lagi.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

2.1       Sejarah Fisiologi

Fisiologi eksperimental diawali pada abad ke-17, ketika ahli anatomi William Harvey menjelaskan adanya sirkulasi darah. Herman Boerhaave sering disebut sebagai bapak fisiologi karena karyanya berupa buku teks berjudul Institutiones Medicae (1708) dan cara mengajarnya yang cemerlang di Leiden. William Harvey (1 April 1578 – 3 Juni 1657) ialah dokter yang mendeskripsikan sistem peredaran darah yang dipompakan sekeliling tubuh manusia oleh jantung, ini mengembangkan gagasan René Descartes yang dalam deskripsi tubuh manusianya bahwa arteri dan vena ialah pipa dan membawa makanan ke sekeliling tubuh. Ilmu Fisiologi telah diajarkan sejak tahun 1953, dan dikenal sebagai Ilmu Faal. Pada kurun waktu tahun 1953 – 1968 ilmu fisiologi merupakan ilmu yang diberikan pada masa bachelor tingkat I yang kemudian dikenal sebagai sarjana muda.

Berdasarkan objek kajiannya dikenal fisiologi manusiafisiologi tumbuhan, dan fisiologi hewan, meskipun prinsip fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organismeyang dipelajari. Sebagai contoh, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan sebagian atau seluruhnya pada sel manusia.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

2.2       Pengertian Fisiologi

Fisiologi adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi. Istilah ini dibentuk dari kata Yunani Kuna φύσις, physis, “asal-usul” atau “hakikat”, dan λογία, logia, “kajian”. Fisiologi, dari kata Yunani physis = ‘alam’ dan logos = ‘cerita’, adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup. Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.

Fisiologi dibagi menjadi fisiologi tumbuhan dan fisiologi hewan tetapi prinsip dari fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organisme yang dipelajari. Misalnya, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan pada sel manusia. Fisiologi hewan bermula dari metode dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran fisiologi manusia yang kemudian meluas pada spesies hewan selain manusia. Fisiologi tumbuhan banyak menggunakan teknik dari kedua bidang ini. Cakupan subjek dari fisiologi hewan adalah semua makhluk hidup. Banyaknya subjek menyebabkan penelitian di bidang fisiologi hewan lebih terkonsentrasi pada pemahaman bagaimana ciri fisiologis berubah sepanjang sejarah evolusi hewan. Cabang ilmu lain yang berkembang dari fisiologi adalah biokimia, biofisika, biomekanika, dan farmakologi.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

Definisi Bekerja menurut toole adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu barang atau jasa yang bermanfaat dan berguna  bagi orang lain, yang mungkin segera terkesan adalah aspek sosial dari bekerja dalam pengertian sempit yaitu karya persembahan seseorang kepada orang lain. Namun jika diteliti lebih dalam tersirat makna lain yaitu bahwa berkarya untuk orang lain seseorang akan mendapatkan penghargaan atas hasil karyanya itu. Penghargaan dari orang lain inilah yang antara lain dicari juga oleh seseorang dan ini bukan saja dalam bentuk materi tetapi juga dalam bentuk pengakuan, pujian, penghormatan, dan lain-lain (Sritomo, 2008).

 

2.3       Bidang Fisiologi

Bidang fisiologi Fisiologi memiliki beberapa subbidang. Elektrofisiologi berkaitan dengan cara kerja saraf dan otot; neurofisiologi mempelajari fisiologi otak; fisiologi sel menunjuk pada fungsi sel secara individual. Banyak bidang yang berkaitan dengan fisiologi, diantaranya adalah Ekofisiologi yang mempelajari efek ekologis dari ciri fisiologi suatu hewan atau tumbuhan dan sebaliknya. Genetika bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi fisiologi hewan dan tumbuhan. Tekanan lingkungan juga sering menyebabkan kerusakan pada organisme eukariotik. Organisme yang tidak hidup di habitat akuatik harus menyimpan air dalam lingkungan seluler. Pada organisme demikian, dehidrasi dapat menjadi masalah besar. Dehidrasi pada manusia dapat terjadi ketika terdapat peningkatan aktivitas fisik. Dalam bidang exercise physiology, telah dilakukan berbagai penelitian mengenai efek dehidrasi terhadap homeostasis.

 

2.4       Pengertian Kerja

Pengertian atau definisi dari kerja adalah semua aktivitas yang secara sengaja dan berguna dilakukan manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya,baik sebagai individu maupun sebagai umat keseluruhan. Studi ergonomi berkaitan dengan kerja manusia dalam hal ini ditujukan untuk mengevaluasi dan merancang kembali tata cara kerja yang harus diaplikasikan agar dapat memberikan peningkatan efektifitas dan efesiensi. Selain juga kenyamanan ataupun keamanan bagi pekerjanya dalam melakukan suatu pekerjaan. Salah satu tolak ukur (selain waktu) yang diaplikasikan untuk mengevaluasi apakah tata cara sudah dirancang baik atau belum adalah dengan mengukur

pengamatan energi kerja yang harus dilakukan untuk melakukan aktivitasaktivitas tersebut. Berat ringannya suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan dapat ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dapat diukur lewat pengukuran anggota tubuh atau fisik manusia, antara lain:

  1. Laju detak jantung
  2. Tekanan darah
  3. Temperatur badan
  4. Konsumsi oksigen yang dihirup
  5. Kandungan kimia dalam tubuh
  6. Laju pengeluaran keringat

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

 

 

2.5       Pembagian Kerja

Dalam perencanaan berbagai kegiatan atau pekerjaan untuk pencapaian tujuan tentunya telah di tentukan.. Upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan pekerjaan yang mungkin saja bersifat kompleks menjadi lebih sederhana dan spesifik dimana setiap orang akan ditempatkan dan di tugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik (Nurmianto, 2003). Oleh karena itu  secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu kerja fisik (otot) dan kerja mental, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kerja Fisik

Pengeluaran energi relatif banyak dan pada jenis ini dibedakan lagi menjadi dua cara:

  1. Kerja Statis, yaitu:
  2. Tidak menghasilkan gerak.
  3. Kontraksi otot bersifat isometris (tegang otot bertambah sementara tegangan otot tetap).
  4. Kelelahan lebih cepat terjadi.
  5. Kerja Dinamis, yaitu:
    1. Menghasilkan gerak.
    2. Kontraksi otot bersifat isotonis (panjang otot berubah sementara tegangan otot tetap).
    3. Kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian).
    4. Kelelahan relatif agak lama terjadi.
    5. e.         Kerja Mental

 

2.6              Kriteria Sistem Kerja

            Kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja (Nurmianto, 2003). Berikut merupakan kriteria yang terdapat dalam suatu sistem kerja.

 

 

  1. Kriteria Faal

Meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi oksigen, tekanan darah, tingkat penguapan, temperatur tubuh, komposisi kimia dalam air seni, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh selama bekerja.

  1. Kriteria Kejiwaan

Meliputi kejenuhan atau kejemuan, emosi, motivasi, sikap, dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama bekerja.

  1. Kriteria Hasil Kerja

Meliputi pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari pekerja selama bekerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi kerja dengan melalui hasil kerja yang diperoleh dari pekerja.

 

2.7       Kelelahan Kerja

Definisi umum dari kelelahan kerja adalah suatu kondisi dimana terjadi pada syaraf dan otot manusia, sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Kelelahan dipandang dari sudut industri adalah pengaruh dari kerja pada pikiran dan tubuh manusia yang cenderung untuk mengurangi kecepatan kerja mereka atau menurunkan kualitas produksi dari performasi optimis seorang operator. Pengukuran kelelahan dapat dilakukan dengan beberapa cara (Nurmianto, 2003). Berikut ini adalah cara untuk mengukur tingkat kelelahan.

  1. Mengukur kecepatan denyut jantung.
  2. Mengukur kecepatan pernafasan.
  3. Mengukur tekanan darah.
  4. Jumlah oksigen yang terpakai dalam tubuh.
  5. Perubahan temperatur tubuh.
  6. Perubahan komposisi kimia dalam darah dan urin.
  7. Menggunakan alat uji kelelahan, yaitu Riken Fatique Indicator.

 

 

2.8       Faktor Kelelahan Kerja

Terdapat beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelelahan dalam bekerja (Nurmianto, 2003). Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelelahan dalam bekerja.

  1. Penentuan dan lamanya waktu kerja.
  2. Sikap mental pekerja.
  3. Besarnya beban tetap.
  4. Kemonotonan pekerjaan dalam lingkungan kerja yang tetap.
  5. Kondisi tubuh operator pada waktu melaksanakan pekerjaan.
  6. Lingkungan fisik kerja.
  7. Kecapaian kerja.
  8. Jenis dan kebiasaan olahraga atau latihan.
  9. Jenis kelamin.
  10. Umur.
  11. Sikap kerja.

 

2.9       Kelelahan Otot

Kelelahan otot adalah kelelahan yang terjadi karena kerja otot, dengan adanya aktivitas kontraksi dan relaksasi. Tipe aktivitas otot oleh Ryan dalam Work & Effort adalah:

  1. Pengeluaran sejumlah energi secara cepat.
  2. Pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus.
  3. Pekerjaan setempat atau lokal yang terus-menerus berulang dengan pengeluaran energi setempat yang besar.
  4. Sikap yang dibatasi (kerja statis).

            Setiap beraktifitas manusia memerlukan energi. Untuk mengurangi kelelahan otot (Brouha dalam Physiology in Industry) mempunyai saran-saran sebagai berikut:

 

 

  1. Mengurangi beban kerja dengan melakukan perancangan kerja.
  2. Mengatur perioda istirahat yang cukup didasarkan atas pertimbangan fisiologi.
  3. Mengatur regu-regu kerja dengan baik dan menyeimbangkan tekanan fisiologi diantara anggota pekerja.
  4. Menyediakan air dan garam yang cukup bagi pekerja yang bekerja dalam lingkungan kerja yang panas.
  5. Menyeleksi pekerja yang didasarkan atas kemampuan fisik mereka dan tingkat pelatihan atau training untuk aktivitas-aktivitas tertentu atau khusus yang membutuhkan energi yang banyak atau berat.

(http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/17-fisiologishal.pdf, 2010).

 

BAB III

METODE PENGAMBILAN DATA

 

 

3.1       Flowchart Pengambilan Data

            Metode pengambilan data digambarkan dengan menggunakan flowchart. Berikut ini adalah urutan kegiatan yang dilakukan dalam pengambilan data sepeda statis dengan flowchart:

 

 

Gambar 3.1 Flowchart Pengambilan Data

 

3.2       Penjelasan Flowchart Pengambilan Data

            Langkah pertama adalah menerima pembagian jenis percobaan yang telah ditentukan oleh asisten laboratorium, yaitu sepeda statis. Setelah mendapatkan jenis percobaan maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam pengambilan data seperti sepeda statis, thermometer, stopwatch, pulsemeter, dan lembar data pengamatan beserta alat-alat tulis untuk mencatat hasil percobaan yang telah dilakukan. Tahap selanjutnya adalah menentukan operator yang akan melakukan percobaan sepeda statis. Pengukuran denyut jantung awal (D0) dan suhu tubuh awal (T0) dilakukan sebelum percobaan sepeda statis dimulai.

Detak jantung awal operator yang melakukan percobaan harus berada pada 80-100, jika tidak maka lakukan pengukuran kembali sampai detak jantung berada pada nilai antara 80-100. Kemudian lakukan percobaan sepeda statis.Pengukuran denyut jantung operator per menit dilakukan selama operator tersebut melakukan percobaan sepeda statis yaitu selama  2 menit, 4 menit, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam, 25 km/jam dan 30 km/jam. Pengukuran denyut jantung selama istirahat juga dilakukan setiap menitnya dan suhu tubuh setelah percobaan selesai dilakukan. Istirahat dilakukan sampai denyut jantung operator sama dengan atau kurang dari denyut jantung awal (Dn ≤ D0). Kemudian melakukan percobaan selanjutnya sampai data tercukupi, merapihkan alat.

 

3.3       Peralatan yang Digunakan

            Pengambilan data menggunakan beberapa peralatan yang digunakan. Berikut ini adalah peralatan yang digunakan beserta fungsinya.

  1. Lembar data, mencatat hasil percobaan yang dilakukan.
  2. Sepeda statis, media operator untuk melakukan percobaan.
  3. Thermometer, mengukur suhu tubuh awal dan suhu tubuh akhir operator.
  4. Stopwatch, mengukur waktu dalam kegiatan pengambilan data.
  5. Pulsemeter, menghitung denyut jantung awal dan denyut akhir operator.
  6. Pulpen, mencatat hasil percobaan yang dilakukan

 

3.4       Data Hasil Percobaan

Data hasil percobaan berdasarkan pengukuran pada percobaan yang telah dilakukan. Berikut ini adalah data-data hasil percobaan yang dilakukan operator.

Tabel 3.1 Lembar Pengamatan Aktivitas pada Percobaan Sepeda Statis

LEMBAR  PENGAMATAN PENGUKURAN FISIOLOGI

SEPEDA STATIS

Nama operator       : Iman Nurrohim                         Suhu Tubuh Awal           : 360 C

Umur operator       : 22 Tahun                                   Denyut Jantung Awal     : 89

Waktu Aktifitas

KECEPATAN

20 Km/Jam

25 Km/Jam

30 Km/jam

 

 

 

 

2 Menit

 

 

 

 

 

D0 : 89

T0  :360 C

D1 : 111

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 122

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 128

D2 : 113

D2 : 134

D2 : 138

 

 

 

 

 

 

T1 : 350 C

D3 : 89

 

 

 

 

 

 

T1 : 340 C

D3 : 118

 

 

 

 

 

 

T1 : 340 C

D3 : 127

D4 :

D4 : 89

D4 : 112

D5 :

D5 :

D5 : 102

D6 :

D6 :

D6 : 89

D7 :

D7 :

D7 :

D8 :

D8 :

D8 :

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

 

 

 

 

 

4 Menit

 

 

D0 : 89

T0  :350 C

D1 : 111

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 123

D0 : 89

T0  : 340 C

D1 : 132

D2 : 114

D2 : 127

D2 : 144

D3 : 117

D3 : 130

D3 : 153

D4 : 118

D4 : 134

D4 : 164

 

 

 

T1 : 340 C

 

D5 : 89

 

 

 

T1 : 370 C

D5 : 120

 

 

 

T1 : 360 C

D5 : 151

D6 :

D6 : 105

D6 : 140

D7 :

D7 : 89

D7 : 128

Dst, sampai

Dn ≤ D0

Dst, sampai

Dn ≤ D0

D8 : 116

D9 : 102

D10: 88

 

 

 

 

6 Menit

 

 

 

 

D0 : 89

T0 : 340 C

D1 : 114

D0 : 89

T0  : 370 C

D1   : 119

D0 : 88

T0  : 360 C

D1 : 136

D2 : 116

D2   : 133

D2 : 147

D3 : 118

D3   : 138

D3 : 154

D4 : 119

D4   : 140

D4 : 165

D5 : 124

D5   : 141

D5 : 170

D6 : 130

D6   : 143

D6 : 175

 

 

T1 : 340 C

D7 : 110

 

 

T1 : 340 C

D7   : 133

 

 

T1 : 370 C

D7 : 168

D8 : 89

D8   : 120

D8 : 155

 

D9   : 107

D9 : 143

D10 : 98

D10: 130

D11 : 89

D11: 115

D12: 100

D13: 88

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

 

 

4.1.      Pembahasan

            Setelah melakukan pengambilan data dari kegiatan yang dilakukan operator, maka selanjutnya dilakukan pengolahan data. Pengolahan yang diperoleh dilakukan untuk melihat kinerja fisiologis operator.

 

4.1.1    Grafik Analisis

            Grafik analisis menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan aktivitas. Berikut ini grafik yang menunjukan pengukuran denyut jantung dan waktu berdasarkan kecepatan dan rentang waktu yang gunakan saat melakukan aktivitas.

 

Gambar 4.1 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 20 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 20 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 113 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Pada kegiatan pertama ini waktu recovery yang dibutuhkan sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 117 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 118 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan masih sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 116 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 118 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 124 dan 130 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 110 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator belum merasakan kelelahan yang berlebih. Waktu recovery yang dibutuhkan juga dipengaruhi hal yang dilakukan operator saat istirahat contohnya seperti minum. Hal ini akan mempercepat waktu recovery yang dibutuhkan dibandingkan jika tidak minum.

 

Gambar 4.2 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 25 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 25 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 122 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 118 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan tidak banyak karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 123 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 127 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 130 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 3 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 120 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 105 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga menjadi 89 denyut/menit.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 133 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 138 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 140 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 141 dan 143 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 5 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 133 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, dan lima menjadi 120,107,98, dan 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator mulai merasakan kelelahan akibat melakukan kegiatan tersebut.

 

Gambar 4.3 Pengukuran Denyut Jantung Pada Kecepatan 30 km/jam

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan kecepatan 30 km/jam. Pada kegiatan pertama operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 2 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 128 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 138 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 4 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 127 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, dan empat menjadi 112,102, dan 89 denyut/menit. waktu recovery yang dibutuhkan lebih banyak karena operator sudah merasakan kelelahan akibat dari kegiatan dengan kecepatan yang berbeda sebelumnya telah dilakukan.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 132 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 144 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 153 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 164 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 151 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 140 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga, empat, lima dan enam menjadi 128, 116, 102, dan 88 denyut/menit.

Pada kegiatan ketiga operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 88 denyut /menit bertambah menjadi 136 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 147 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 154 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 165 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 170 dan 175 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 7 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 168 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh menjadi 155, 143, 130, 115, 100, dan 88 denyut/menit. Operator sudah merasa sangat kelelahan. Hal ini terlihat dari detak jantung yang sangat tinggi mencapai 175 denyut/menit dan waktu recovery yang dibutuhkan pada kegiatan ini paling lama yaitu 7 menit.

 

Gambar 4.4 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 2 Menit

 

Grafik diatas menggambarkan denyut jantung dari operator saat melakukan kegiatan pada sepeda statis dengan jangka waktu 2 menit. Pada kecepatan 20, 25 dan 30 km/jam. Dimulai pada kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 113 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Pada kegiatan pertama ini waktu recovery yang dibutuhkan sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan juga dalam jangka waktu 2 menit dan dengan kecepatan 25 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 122 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 118 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan tidak banyak karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan juga dalam jangka waktu 2 menit dengan kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 128 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 138 denyut/menit. Setelah menit kedua recovery juga dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 4 menit. Pada menit pertama recovery denyut jantung operator berubah menjadi 127 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, dan empat menjadi 112,102, dan 89 denyut/menit. waktu recovery yang dibutuhkan lebih banyak karena operator sudah merasakan kelelahan akibat dari kegiatan dengan kecepatan yang berbeda sebelumnya telah dilakukan.

Dari grarik di atas juga terlihat tingkat kelelahan operator yang bertambah karena untuk setiap perubahan kecepatan didahului kegiatan bersepeda di sepeda statis pada kecepatan yang sama namun jangka waktunya berbeda sehingga ketika dilihat berdasarkan waktunya terlihat jelas perubahan tingkat kelelahan pada operator.

 

Gambar 4.5 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 4 Menit

Pada grafik di atas merupakan gambaran denyut jantung operator saat  melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dengan kecepatan 20, 25, 30 km/jam. Dimulai pada kecepatan 20 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 111 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 117 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 118 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 1 menit dan denyut jantung operator kembali berkurang menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan masih sedikit karena operator belum merasakan kelelahan.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dan pada kecepatan 25 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 123 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 127 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 130 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 134 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 3 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 120 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 105 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga menjadi 89 denyut/menit.

Pada kegiatan kedua operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 4 menit dan pada kecepatan 30 km/jam. Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 132 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 144 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 153 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 164 denyut/menit. Setelah menit keempat recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 6 menit. Pada menit pertama denyut jantung menurun menjadi 151 denyut/menit. Pada menit kedua kembali menurun menjadi 140 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit ketiga, empat, lima dan enam menjadi 128, 116, 102, dan 88 denyut/menit.

 

Gambar 4.6 Pengukuran Denyut Jantung Dalam Rentang Waktu 6 Menit

 

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit pada kecepatan 20, 25, dan 30 km/jam. Mulai dari kecepatan 20 km/jam Denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 114 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 116 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 118 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 124 dan 130 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 2 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 110 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang pada menit kedua menjadi 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator belum merasakan kelelahan yang berlebih.

Pada kegiatan ini operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit pada kecepatan 25 km/jam. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 89 denyut /menit bertambah menjadi 119 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 133 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 138 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 140 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 141 dan 143 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 5 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 133 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, dan lima menjadi 120, 107, 98, dan 89 denyut/menit. Waktu recovery yang dibutuhkan mulai bertambah karena operator mulai merasakan kelelahan akibat melakukan kegiatan tersebut.

Pada kegiatan yang terakhir operator melakukan kegiatan dengan jangka waktu 6 menit dan dengan kecepatan 30 km/jam. Pada menit pertama denyut jantung operator yang semula 88 denyut /menit bertambah menjadi 136 denyut/menit. Pada menit kedua, denyut jantung operator bertambah menjadi 147 denyut/menit. Pada menit ketiga bertambah menjadi 154 denyut/menit dan pada menit keempat menjadi 165 denyut/menit. Pada menit kelima dan keenam denyut jantung operator kembali bertambah menjadi 170 dan 175 denyut/menit Setelah menit keenam recovery dilakukan sampai denyut jantung operator kembali seperti semula. Recovery dilakukan selama 7 menit. Pada menit pertama recovery  denyut jantung operator mengalami penurunan menjadi 168 denyut/menit dan denyut jantung operator kembali berkurang secara berturut-turut pada menit kedua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh menjadi 155, 143, 130, 115, 100, dan 88 denyut/menit. Melalui grafik di atas terlihat jelas bahwa operator sudah merasa sangat kelelahan yang terlihat dari detak jantung yang sangat tinggi mencapai 175 denyut/menit serta waktu recovery yang dibutuhkan pada kegiatan ini paling lama yaitu 7 menit.

 

4.1.2    Konsumsi Energi dan Oksigen

            Konsumsi energi dan oksigen dibutuhkan dalam melakukan suatu kegiatan. Berikut ini perhitungan untuk mencari konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan.

* rata-rata denyut jantung

a. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 2 menit

 

b. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 4 menit

 

c. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 6 menit

 

d. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 2 menit

 

e. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 4 menit

 

f. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 6 menit

 

g. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 2 menit

 

h. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 6 menit

 

j. Untuk secara keseluruhan

 

 

 

 

Sehingga rata-rata keseluruhan menjadi 133,1944 denyut per menit

Kemudian untuk menghitung rata-rata denyut jantung saat istirahat dilakukan perhitungan untuk  . Berikut ini perhitungannya:

  1. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 2 menit

 

  1. Untuk kecepatan 20 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 4 menit

 

  1.  kecepatan 20 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan 25 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan 30 km/jam dengan waktu 6 menit

 

  1. Untuk kecepatan secara keseluruhan yaitu

 

 

 

Jumlah keseluruhan waktu istirahat =   

 

 

 

 

Dimana :

Y = Energi (Kkal/menit)

 = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)(rata-rata)

Untuk Y pada kecepatan 20 km/jam dengan kecepatan denyut jantung 112 denyut per menit

 

   = 5,156293 Kkal/menit

Berikut ini adalah tabel yang menunjukan nilai Y kerja:

Tabel 4.1 Perhitungan Nilai Y Kerja

Kecepatan

Waktu

(menit)

 

 

 

 

Y

20 km/jam

2

112

12544

5,156293

25 km/jam

2

128

16384

6,601287

30 km/jam

2

133

17689

7,10238

20 km/jam

4

115

13225

5,408832

25 km/jam

4

128,5

16512,25

6,650335

30 km/jam

4

148,25

21978,06

8,776389

20 km/jam

6

120,1667

14440,04

5,863667

25 km/jam

6

135,6667

18405,45

7,379277

30 km/jam

6

157,8333

24911,35

9,940624

keseluruhan

 

133,1944

17740,75

7,122338

 

Berikutnya, setelah melakukan perhitungan terhadap Y kerja dilakukan juga perhitungan untuk Y istirahat. Berikut ini adalah tabel yang menunjukan nilai Y istirahat:

 

Tabel 4.2 Perhitungan Nilai Y Istirahat

Kecepatan

 

(detak/menit)

 

 

 

Y

(kkal/menit)

20 km/jam

89

7921

3,502259

25 km/jam

103

10609

4,449624

30 km/jam

107,5

11502,56

4,773806

20 km/jam

89

7921

3,502259

25 km/jam

104,6667

10955,12

4,574726

30 km/jam

120,8333

14600,69

5,924184

20 km/jam

99,5

9900,25

4,195447

25 km/jam

109,4

11968,36

4,944295

30 km/jam

128,4286

16493,91

6,643316

keseluruhan

112,87097

12739,86

5,228736

 

Konsumsi energi (KE) = Y kerja – Y istirahat (liter/menit)

Konsumsi oksigen (KO) = KE / 4,8 liter/menit

Berikut ini tabel perhitungannya :

Tabel 4.3 Perhitungan Konsumsi Energi

Kecepatan

Wktu

Y Kerja

Y Istirahat

Konsumsi Energi

Konsumsi Oksigen

20 km/jam

2

5,156293

3,502259

1,654034

0,34459

25 km/jam

2

6,601287

4,449624

2,151663

0,448263

30 km/jam

2

7,10238

4,773806

2,328574

0,48512

20 km/jam

4

5,408832

3,502259

1,906573

0,397203

25 km/jam

4

6,650335

4,574726

2,075609

0,432419

30 km/jam

4

8,776389

5,924184

2,852205

0,594209

20 km/jam

6

5,863667

4,195447

1,66822

0,347546

25 km/jam

6

7,379277

4,944295

2,434982

0,507288

30 km/jam

6

9,940624

6,643316

3,297308

0,686939

keseluruhan

 

7,122338

5,228736

1,893602

0,3945

 

Contoh perhitungan :

Konsumsi energi (KE) = 5,156293– 3,502259 = 1,654034 kkal/menit

Konsumsi oksigen (KO) = 1,654034 / 4,8 = 0,34459 liter/menit

 

4.1.3    Periode Istirahat (Waktu Recovery Teoritis)

            Setelah melakukan kegiatan, harus dilakukan recovery untuk mengembalikan kondisi fisik menjadi seperti semula. Recovery dilakukan selain untuk mengembalikan kondisi fisik juga untuk menjaga agar tidak terjadi kelelahan yang berlebihan. Berikut ini rumus untuk menentukan waktu istirahat secara teoritis.

 

Dimana :

R  = Waktu istirahat (menit)

T   = Total waktu kerja

K  = Energi yang dikeluarkan dalam bekerja (kkal/menit)

S   = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (kkal/menit)

Sebelum melakukan perhitungan untuk mencari lamanya waktu istirahat, terlebih dahulu dilakukan pencarian nilai s dengan rumus :

 

Dimana :

a   = nilai terkecil pada kelompok denyut jantung yang akan dicari S nya

b   = nilai terbesar pada kelompok denyut jantung yang akan dicari S nya

c   = nilai terkecil kelompok energy expenditure sesuai golongan denyut jantungnya

d   = nilai terbesar kelompok energy expenditure sesuai golongan denyut jantungnya

S   = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (kkal/menit)

Untuk nilai detak jantung per menit sebesar 112 detak per menit maka nilai S nya yaitu :

 

 

S = 1,2 +5 = 6,2 kkal/menit

Berikut tabel hasil penghitungan nilai S

Tabel 4.4 Perhitungan Nilai S

Kecepatan

Waktu (menit)

Nilai  (denyut/menit)

Nilai S (kkal/menit)

20 km/jam

2

112

6,2

25 km/jam

2

128

7,8

30 km/jam

2

133

8,3

20 km/jam

4

115

6,5

25 km/jam

4

128,5

7,85

30 km/jam

4

148,25

9,825

20 km/jam

6

120,1667

7,01667

25 km/jam

6

135,6667

8,56667

30 km/jam

6

157,8333

10,78333

keseluruhan

 

133,1944

8,31944

 

Berikutnya mencari nilai R

 menit

Berikut adalah tabel perhitungannya:

Tabel 4.5 Perhitungan Waktu Istirahat Teoritis  

Kecepatan

Waktu(menit)

K (kkal/menit)

S (kkal/menit)

R(menit)

20 km/jam

2

5,156293

6,2

0,57091

25 km/jam

2

6,601287

7,8

0,469965

30 km/jam

2

7,10238

8,3

0,42754

20 km/jam

4

5,408832

6,5

1,116618

25 km/jam

4

6,650335

7,85

0,931718

30 km/jam

4

8,776389

9,825

0,576446

20 km/jam

6

5,863667

7,01667

1,585368

25 km/jam

6

7,379277

8,56667

1,211775

30 km/jam

6

9,940624

10,78333

0,599036

 

 

 

 

 

4.2.      Analisis

Setelah dilakukan perhitungan terhadap data hasil pengamatan yang diperoleh, maka dapat dilakukan proses analisis. Proses analisis dilakukan untuk membandingkan antara hasil perhitungan teoritis dan hasil perhitungan aktual.

 

4.2.1    Kecepatan Rata-Rata Denyut Jantung

            Kecepatan mengayuh sepeda statis merupakan faktor yang menentukan rata-rata kecepatan denyut jantung. Kecepatan rata-rata denyut jantung didapat dari jumlah seluruh denyut jantung pada setiap kecepatan. Dibagi dengan banyaknya kecepatan ditambah 1. Berikut ini rumusnya.

 

Berikut ini merupakan tabel hasil ringkasan kecepatan rata-rata denyut jantung.

Tabel 4.6 Perhitungan Kecepatan Rata-rata

Waktu (menit)

Kecepatan (km/jam)

20

25

30

2

104.3333

115

118,3333

4

109,8

120,6

136,4

6

115,7143

129

147,8571

 

Berikut ini contoh perhitungannya untuk kecepatan 20 km/jam pada jangka waktu 2 menit :

 

Jadi, rata-rata kecepatan denyut jantung untuk kecepatan 20 km/jam pada jangka waktu 2 menit adalah 104,3333 denyut/menit. Hal yang dapat terlihat dari tabel perhitungan kecepatan rata-rata adalah ketika kecepatannya semakin ditambah maka kecepatan rata-rata denyut jantung pun akan meningkat dan semakin lama waktu operator mengayuh sepeda statisnya maka akan semakin besar pula kecepatan rata-rata denyut jantungnya.

 

 

4.2.2    Perubahan Temperatur

Temperatur tubuh operator pasti akan mengalami perubahan, dari sebelum melakukan kegiatan mengayuh pada sepeda statis sampai kegiatan mengayuh selesai. Berikut ini tabel perubahan temperatur yang terjadi pada tubuh operator.

Tabel 4.7 Perubahan Temperatur

Wkt

Kecepatan

20 km/jam

25 km/jam

30 km/jam

T0

T1

 

Ket

T0

T1

 

ket

T0

T1

 

Ket

2

36

35

1

turun

34

34

0

tetap

34

34

0

tetap

4

35

34

1

turun

34

37

3

naik

34

36

2

naik

6

34

34

0

tetap

37

34

3

turun

36

37

1

naik

 

Dari tabel di atas terlihat perubahan temperatur tubuh operator. Pada kegiatan pertama, yaitu mengayuh dengan kecepatan 20 km/jam temperatur tubuh operator turun 1 derajat dari temperatur awal. Perubahan temperatur terjadi karena kelelahan pada tubuh operator dan tingkat pekerjaan dari operator belum tinggi jadi temperatur tubuh operator masih normal. Saat kelelahan dan tingkat pekerjaan yang dilakukan meningkat maka yang terjadi adalah temperatur tubuh operator naik hal ini terlihat pada kegiatan dengan kecepatan 25 km/jam dengan rentang waktu 4 menit. Hal ini juga tampak pada 2 kegiatan terakhir, yaitu pada kecepatan 30 km/jam dengan rentang waktu 4 menit yang mengalami kenaikan 2 derajat dan pada rentang waktu 6 menit yang mengalami kenaikan 1 derajat sehingga temperatur tubuh operator melebihi temperatur tubuh normalnya. Meningkatnya temperatur tubuh operator menunjukan adanya kelelahan yang terjadi pada fisik operator ketika melakukan pekerjaan secara terus menerus serta dengan beban kerja yang terus ditambah. Keringat juga dikeluarkan oleh tubuh untuk menjaga agar temperatur tubuh tidak terlalu tinggi, oleh karena itu perubahan temperatur operator juga tidak terlalu tinggi.

 

4.2.3    Konsumsi Energi Dan Oksigen

Energi dan oksigen yang lebih banyak dari kondisi normal pasti dibutuhkan oleh operator. Perhitungan banyaknya konsumsi energi dan oksigen dilakukan untuk mengetahui tingkat kebutuhan energi dan oksigen pada operator ketika melakukan kegiatan mengayuh pada sepeda statis. Secara keseluruhan kegiatan, operator mengkonsumsi energi sebesar 1,893602 kkal/menit dan mengkonsumsi oksigen sebanyak 0,3945 liter/menit. Konsumsi energi dan oksigen dipengaruhi oleh beratnya pekerjaan dan lama perkerjaan yang dilakukan oleh operator. Semakin lama kegiatan mengayuh sepeda statis semakin besar konsumsi energi dan oksigen yang diperlukan. Semakin berat kegiatan yang dilakukan oleh operator semakin besar juga konsumsi energi dan oksigen yang diperlukan.

 

4.2.4    Perbandingan Recovery Percobaan dan Teoritis

Waktu recovery teoritis merupakan waktu yang dibutuhkan oleh operator secara teoritis untuk mengembalikan denyut jantung menjadi seperti semula. Berikut ini adalah tabel perbandingan antara waktu recovery percobaan dan teoritis.

Tabel 4.8 Perbandingan Recovery Percobaan Dan Teoritis

Waktu

Recovery Percobaan

Recovery Teoritis

 

20

25

30

20

25

30

2

1

2

4

0,57091

0,469965

0,42754

4

1

3

6

1,116618

0,931718

0,576446

6

2

5

7

1,585368

1,211775

0,599036

 

            Dari tabel diatas, tampak perbedaan antara perhitungan secara teoritis dengan waktu istirahat yang dibutuhkan pada kenyataannya. Hal ini disebabkan karena pada perhitungan teoritis memperhatikan total waktu kerja, energi yang dikeluarkan dalam bekerja (kkal/menit) yang sesuai dengan percobaan tetapi pada pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan perhitungan teoritis dilakukan berdasarkan tabel. Hal inilah yang membuat perbedaan pada perhitungan percobaan dan teoritis berbeda karena energi rata-rata yang direkomendasikan tidak sama dengan energi rata-rata yang digunakan oleh operator untuk melakukan kegiatan mengayuh sepeda statis yang disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, pengaturan napas yang kurang baik, dan faktor-faktor yang lainnya yang menyebabkan energi yang direkomendasikan tidak sama dengan energi yang digunakan sehingga waktu istirahatnya pun berbeda antara kenyataan dengan perhitungan secara teoritis.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1       Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yang akan menjawab tujuan dari penulisan laporan akhirini. Kesimpulan dari modul pengukuran kinerja fisiologi adalah sebagai berikut:

1.  Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai konsumsi energi dan konsumsi oksigen sebesar 1,893602 kkal/menit dan 0,3945 liter/menit

2. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 20 km/jam adalah 104,3333 denyut/menit, 109,8 denyut/menit, dan 115,7143 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 25 km/jam adalah 115 denyut/menit, 120,6 denyut/menit, dan 129 denyut/menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung pada waktu 2, 4, dan 6 menit dengan kecepatan 30 km/jam adalah 118,3333 denyut/menit, 136,4 denyut/menit, dan 147,8571 denyut/menit. Hal ini menunjukan bahwa semakin berat beban pekerjaan dan semakin lama pekerjaan tersebut dilakukan maka jumlah denyut jantung operator tiap menitnya pun bertambah besar.

3. Perubahan temperatur dari pekerjaan menggunakan sepeda statis pada waktu 2, 4,dan 6 menit dengan kecepatan 20, 25, 30 km/jam berturut-turut adalah 1, 1, 0, 0, 3, 3, 0, 2 dan1 dalam  derajat Celcius. Hal ini menunjukan temperatur tubuh operator akan bertambah tinggi setelah melakukan pekerjaan dengan beban yang juga ditambah dan lamanya pekerjaan yang bertambah secara terus-menerus.

4. Tampak perbedaan antara perhitungan secara teoritis dengan waktu istirahat yang dibutuhkan pada kenyataannya. Sebagai contoh, pada kegiatan mengayuh sepeda statis selama 4 menit dengan kecepatan 25 km/jam secara teoritis dibutuhkan waktu istirahat 0,931718 menit tetapi pada kenyataannya operator membutuhkan waktu 3 menit untuk beristirahat. Perbedaan pada perhitungan percobaan dan teoritis terjadi karena energi rata-rata yang direkomendasikan tidak sama dengan energi rata-rata yang digunakan oleh operator untuk melakukan kegiatan mengayuh sepeda statis yang disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, pengaturan napas yang kurang baik, dan faktor-faktor yang lainnya yang menyebabkan energi yang direkomendasikan tidak sama dengan energi yang digunakan sehingga waktu istirahatnya pun berbeda antara kenyataan dengan perhitungan secara teoritis.

 

5.2       Saran

            Menyadari bahwa laporan akhir ini tidak luput dari kekurangan, berikut adalah saran yang dapat disampaikan seharusnya harus pemanasan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan data.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung : Institut Teknologi                     Bandung, 1979..

Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna Widya. 1995.

http://materipraktikumapk1.blogspot.com/2009/mtm-1_04.html.

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: